Selasa, 21 Februari 2017

Demokrasi Ekonomi

Demokrasi Ekonomi


Gagasan demokrasi ekonomi tercantum eksplisit dalam konstitusi sebagai hukum tertinggi di negara kita. UUD Negara Republik Indonesia Tahun 1945 memang mengandung gagasan demokrasi politik dan sekaligus demokrasi ekonomi. Artinya, dalam pemegang kekuasaan tertinggi di negara kita adalah rakyat, baik di bidang politik maupun ekonomi. Seluruh sumber daya politik dan ekonomi dikuasai oleh rakyat yang berdaulat. Dalam sistim demokrasi yang dibangun tentu tidak semuanya secara langsung dikuasai oleh rakyat. Beberapa bagian yang pokok diwakilkan pengurusannya kepada negara, dalam hal ini kepada (i) MPR, DPR, DPD, dan Presiden dalam urusan penyusunan haluan-haluan dan perumusan kebijakan-kebijakan resmi bernegara, dan (ii) kepada Presiden dan lembaga-lembaga eksekutif-pemerintahan lainnya dalam urusanurusan melaksanakan haluan-haluan dan kebijakan-kebijakan negara itu, serta (iii) secara tidak langsung kepada lembaga peradilan dalam urusan mengadili pelanggaran terhadap haluan dan kebijakan-kebijakan negara itu.
Namun, terlepas dari adanya pendelegasian kewenangan dari rakyat yang berdaulat kepada para delegasi rakyat, baik di bidang legislatif, eksekutif, maupun judikatif itu, makna kedaulatan rakyat sebagai kekuasaan tertinggi menurut sistem demokrasi politik dan demokrasi ekonomi itu tidak dapat dikurangi dengan dalih kewenganan rakyat sudah diserahkan kepada para pejabat. Dalam konteks bernegara, kedaulatan rakyat itu bersifat ‘relatif mutlak’, meskipun harus diberi makna yang terbatas sebagai perwujudan ke-Maha-Kuasaan Allah sebagaimana diakui dalam Alinea Ketiga Pembukaan UUD 1945. Sebagai konsekwensi tauhid, yaitu keimanan bangsa Indonesia kepada Allah swt, Tuhan Yang Maha Esa, maka setiap manusia Indonesia dipahami sebagai Khalifah Tuhan di atas muka bumi yang diberi kekuasaan untuk mengolah dan mengelola alam kehidupan untuk sebesar-besarnya kemakmuran bersama berdasar atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi-berkeadilan, berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian, serta dengan menjaga keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional, sebagaimana dirumuskan dalam Pasal 33 ayat (4) UUD 1945.[1]
Pada kesempatan lain Bung Hatta menegaskan kembali pengertian usaha bersama atas asas kekeluargaan seperti dimaksud dalam Pasal 33 Undang-undang Dasar 1945 sebagai berikut: “Usaha bersama atas asas kekeluargaan ialah koperasi, seperti yang dipahamkan dalam sosialisme Indonesia. Pasal 33 UUD membagi pekerjaan membangun ekonomi masyarakat antara koperasi dan negara. Koperasi membangun dari bawah, mengajak orang banyak bekerja sama untuk menyusun dasar-dasar kemakmuran rakyat. Usaha yang besar-besar diselenggarakan oleh negara. Dikuasai oleh negara tidak berarti, bahwa pemerintah sendiri menjadi pengusaha dengan segala birokrasi yang ada padanya. Pemerintah menetapkan politik perekonomian, berdasarkan Majelis Permusyawaratan Rakyat atau dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat. Pekerjaan dapat diserahkan kepada badan-badan pelaksana yang bertanggung jawab kepada pemerintah, yang kerjanya dikontrol oleh negara.”[2]



[1] Jimly Asshiddiqi “Demokrasi Ekonomi” di http://www.jimly.com/makalah/namafile/60/Demokrasi_Ekonomi.pdf diakses pada tanggal 14 Mei 2015
[2]  Sri-Edi Swasono dan Fauzie Ridjal (ed), 1992, Mohammad Hatta; beberapa pokok pikiran, UI-Press: Jakarta.  hlm. 150

Jumat, 17 Februari 2017

Makhluk-makhluk yang Dikisahkan dalam Al Quran dan Hadist

Makhluk-makhluk yang Dikisahkan dalam Al Quran dan Hadist

DALAM memahami ajaran Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW, tentunya kita pernah mendengar makhluk mitos yang keberadaannya diceritakan oleh kitab dan hadis. Berikut di antaranya.

1. Buraq

Makhluk yang diciptakan Allah SWT terbuat dari cahaya adalah sesosok makhluk tunggangan ajaib, yang membawa Rasulullah SAW dari Masjid al-Aqsa menuju Mi'raj ketika peristiwa Israk Mikraj. Dalam Al-Quran Q.S. Al-Baqarah ayat 19 "buraq" dapat diartikan sebagai "Kilat". Sedangkan, dalam kamus "buraq" diertikan sebagai "binatang kendaraan Nabi Muhammad SAW".

2. Dabbat al-Ard

Dalam islam Dabbat al-Ard adalah binatang buas atau raksasa yang muncul dari perut bumi. Binatang ini disebut-sebut sebagai salah satu tanda sebelum datangnya hari penghakiman. Dia akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, selepas peristiwa Matahari terbit dari Barat, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabbat al-ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa dan cincin Nabi Sulaiman.

3. Ya'juj dan Ma'juj

Sekelompok manusia Ya'juj dan Ma'juj dalam tradisi keagamaan digambarkan dalam istilah yang ambigu (tidak jelas). yang disebut-sebut akan muncul di akhir zaman, dengan kekuatan sebagai perosak dan penghancur kehidupan di muka bumi.

Ciri utama mereka adalah sebagai perosak dengan jumlah yang sangat besar sehingga ketika mereka turun dari gunung seakan-akan air bah yang mengalir, tidak pandai berbicara dan tidak fasih, bermata kecil (sipit), berhidung kecil, lebar mukanya, merah warna kulitnya seakan-akan wajahnya seperti perisai dan sifat-sifat lain.

4. Imam Mahdi

Imam Mahdi atau seseorang yang memandu adalah seorang muslim berusia muda yang akan dipilih oleh Allah untuk menghancurkan semua kezaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat.

Semasa kepemimpinannya Imam Mahdi satu demi satu kedzaliman akan tumbang takluk dibawah kekuasaanya. Kemenangan demi kemenangan yang diraih Imam Mahdi dan pasukannya akan membuat murka raja kezaliman atau Dajjal. sehingga membuat Dajjal keluar dari persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi serta pengikutnya.

5. Dajjal

Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada para pengikutnya untuk membaca dan menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi sebagai perlindungan dari Dajjal, dan kalau boleh berlindung di kota Madinah dan Makkah, kerana Dajjal tidak akan pernah boleh masuk kota tersebut yang dijaga oleh para malaikat.

Dajjal digambarkan sebagai tokoh kafir yang membawa fitnah di akhir zaman. Rasulullah SAW bersabda: "Sejak Allah swt menciptakan Nabi Adam A.S. sampai ke hari kiamat nanti, tidak ada satu ujian pun yang lebih dahsyat daripada Dajjal ".

6. Azazil

Azazil disebut sebagai bapak dari bangsa jin. Ada pula yang menyebutkan bahawa nama asal Iblis adalah al-Harits. Menurut syariat Islam, Azazildiciptakan sebelum Nabi Adam, Azazil pernah menjadi Imam para Malaikat (Sayyid al-Malaikat) dan Khazin al-Jannah (Bendaharawan Syurga).

Pada awalnya azazil menjadi kebanggaan para malaikat dan menjadi pemimpin malaikat Karubiyyuun dan masih banyak lagi. Namun, Allah SWT melaknat dan mengubah wajahnya yang cemerlang menjadi seperti babi hutan.

Kepalanya diubah seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung. Kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya.Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Azazil diberi umur hingga hari akhir kiamat. Dengan janji untuk menyesatkan manusia sebanyak mungkin dan menemaninya di neraka Jahannam kelak.

7. Anqa '

Dalam mitologi islam Anqa digambarkan seperti burung besar misteri. Burung ini sering di identikkan dengan burung Simurgh dari Parsi dan Phoenix dari Mesir kuno.

Burung ini dikisahkan tinggal di sebuah gunung tinggi yang bernama Gunung Falaj. Apabila burung ini terbang, maka dia sanggup menutup matahari seperti awan. Bulunya mempunyai warna yang sangat banyak, lehernya seperti leher unta, mempunyai empat sayap, dua panjang serta dua lagi saiznya lebih pendek.

Walaupun kewujudannya belum dapat dibuktikan secara ilmiah.sebagai umat islam yang beriman kita harus mempercayai adanya makhluk-makhluk tersebut.

Kamis, 16 Februari 2017

Selepas Subuh, Rasulullah Lakukan Ini

Selepas Subuh, Rasulullah Lakukan Ini


Hidup di muka bumi ini ditentukan oleh masa. Salah satunya waktu malam menjelang pagi. Di sana terdapat satu kewajipan bagi umat Islam, yakni solat subuh. Ya, solat subuh yang terdiri dari dua rakaat ini merupakan hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh umat muslim. Dan tahukah anda apa yang dilakukan Rasulullah selepas subuh?

Setelah ketenangan kota Madinah dan terbitnya fajar, setelah melaksanakan solat subuh berjamaah di masjid, Rasulullah SAW duduk untuk berzikir kepada Allah, kemudian duduk dua rakaat.

Dari Jabir RA bin Samurah RA, "Bahawasanya Nabi SAW apabila selesai solat subuh, duduk di tempat shalatnya hingga matahari meninggi," (HR. Muslim).

Rasulullah SAW telah mengajarkan untuk melakukan sunnah yang agung ini, dan mengingatkan besarnya pahala.

Dari Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang solat Subuh berjemaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, sempurna," (HR. Tirmidzi) . []

Sumber: Suatu Hari di Rumah Rasulullah / Karya: Abdul Malik al Qasim / Penerbit: Darul Qaasam

Rabu, 15 Februari 2017

Demi Jaga Kehormatan, Wanita Ini Rela Tahan Lapar

Demi Jaga Kehormatan, Wanita Ini Rela Tahan Lapar


SUDAH menjadi kewajipan bagi seorang wanita untuk menjaga kehormatan dirinya. Tetapi, seringkali keperluan hidup melemahkan mereka. Sehingga, kehormatan digadaikan demi memenuhi keperluan. Nah, jangan sampai kita termasuk salah satu orang yang melakukan hal itu. Kita perlu belajar dari wanita yang satu ini nih.

Ketika itu, tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok wanita cantik yang tak lain adalah jirannya.

"Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan kerana tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa (Hifdz al-Nafs), aku tidak akan datang ke rumahmu. Mahukah engkau memberi makanan padaku kerana Allah? "Tutur wanita itu.

Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik (kemarau). Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tanpa ragu-ragu kelaparan melanda sebahagian besar penduduk desa itu. Hanya sebahagian kecil yang masih boleh bertahan.

"Tidakkah engkau tahu bahawa aku mencintaimu? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku semalam, "kata tukang besi itu.

Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berjaya meluluhkan hati wanita itu.

"Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah," ujar wanita itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi.

Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawapan yang sama, wanita itu pun kembali ke rumahnya.

Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam keadaan payah. Suaranya parau, matanya sayu, dan belakangnya bengkok kerana menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah. Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk kali ketiga.

Ketika itulah, Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi. "Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya," tutur tukang besi dalam hatinya. "Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi selamanya."

Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang, kerekek, kelihatan pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu bertanya, "Apa keperluanmu datang ke rumahku?"



"Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan bimbang, aku memberinya kerana Allah, "jawab si tukang besi itu.

"Ya Allah, jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari api di dunia dan akhirat," tutur wanita itu seraya menengadahkan kedua tangannya ke langit.

Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya.

Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanita itu lagi.

"Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu," ujar si tukang besi.

Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.

"Ya Allah engkau telah mewujudkan do'aku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga." Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud.

Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara.

Setiap muslimah mestinya dapat mengambil i'tibar (pelajaran berharga) dari berbagai kisah wanita sholehah yang telah diuraikan di muka. Merekalah suri tauladan dalam kehidupan seharian, bukan orang-orang yang menawarkan gaya hidup hedonisme dan materialism.

sumber islampos.com

Selasa, 14 Februari 2017

MUADZIN-MUADZIN RASULULLAH ﷺ

MUADZIN-MUADZIN RASULULLAH ﷺ


Muadzin adalah pengumandang azan. Memanggil dan mengingatkan kaum muslimin telah masuk waktu solat tertentu. Syariat azan datang selepas perintah solat. Solat disyariatkan di Mekah. Sedangkan azan disyariatkan di Madinah. Artinya, ada masa yang dilalui kaum muslimin, masuk waktu solat tanpa mengumandangkan azan.

Azan disyariatkan pada tahun pertama hijrah Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma berkata,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِي بِالصَّلاَةِ فَقَالَ رَسُولُ الله يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ
"Dulu, kaum muslimin ketika datang ke Madinah, mereka berkumpul. Mereka menganggarkan waktu solat tanpa ada yang menyeru. Hingga suatu hari, mereka berbincang-bincang tentang hal itu. Ada yang mengatakan, 'Gunakan saja loceng seperti loceng Nashara'. Dan yang lain menyatakan 'Gunakan saja trompet seperti trompet Yahudi'. Umar berkata, 'Tidakkah kalian mengangkat seseorang untuk menyeru shalat?' Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, 'Wahai, Bilal. Berdirilah dan serulah untuk solat '. "

Dari hadis ini, kita dapat mengetahui bahawa Bilal adalah muadzin Rasulullah ﷺ. Yang jadi pertanyaan, apakah hanya Bilal? Sedangkan di masa Rasulullah ﷺ, sekurang-kurangnya kaum muslimin mempunyai 3 buah masjid. Masjid al-Haram, Masjid an-Nabawi, dan Masjid Quba. Letaknya berjauhan sehingga tidak mungkin hanya Bilal yang menjadi muadzin Rasulullah ﷺ. Lalu siapa saja muazzin-muazzin Rasulullah?

Pertama: Bilal bin Rabah

Bilal bin Rabah merupakan orang yang pertama-tama memeluk Islam. Ia merasakan siksaan Quraisy di awal datangnya agama suci ini. Ia menjadi muadzin Rasulullah ﷺ sepanjang hidup Nabi. Dalam keadaan safar maupun mukim. Ada yang menyatakan ia sempat beberapa saat menjadi muadzin di masa Abu Bakar. Dan tentu saja pernah satu kali mengumandangkan azan di zaman Umar. Kerana para sahabat rindu dengan azannya. Dan ingin mengingat Rasulullah ﷺ.

Tentu banyak keutamaan Bilal. Banyak pula ayat-ayat Al-Quran yang turun, dan Bilal menjadi bahagian dari kandungan ayat tersebut.

Kedua: Ibnu Ummi Maktum

Namanya adalah Amr bin Qays bin Zaidah bin al-Asham. Ia memeluk Islam di Mekah. Walaupun buta, tapi Amr termasuk orang yang pertama menyambut seruan Nabi ﷺ hijrah ke Madinah.

Diriwayatkan dari jalan Ibnu Ishaq dari al-Barra, ia berkata, "Yang pertama datang kepada kami adalah Mush'ab bin Umair. Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah mengangkatnya sebagai pemimpin Madinah apabila pergi berperang. Ia mengimami masyarakat. "(Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Juz: 4 Hal: 495).

Az-Zubair bin Bakar berkata, "Ibnu Ummi Maktum pergi menuju Perang Qadisiyah. Di sanalah ia syahid. Pada masa itu ia memegang bendera. "(Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Juz: 4 Hal: 495).

Ibnu Ummi Maktum sama seperti Bilal, muadzin Rasulullah ﷺ di Madinah.

Ketiga: Abu Mahdzurah

Namanya adalah Aus bin Mughirah al-Jumahi. Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk mengumandangkan azan di Mekah sekembalinya beliau dari Hunain.

Ketika Mekah berhasil ditaklukkan kaum muslimin, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dari atas Kaabah. Sebahagian pemuda Quraisy, yang masih belum lapang dada menerima Islam, menirukan suara Bilal. Mereka marah dan bermaksud mengejek dia. Sampai salah seorang pemuda yang bernama Abu Mahdzurah al-Jumahi pun meniru-niru azan Bilal.

Abu Mahdzurah, pemuda 16 tahun, termasuk orang Quraisy yang paling merdu suaranya. Apabila ia mengangkat suara mengumandangkan azan dengan maksud ejekan, Rasulullah ﷺ mendengarnya. Nabi memanggilnya dan mendudukkannya di hadapan beliau. Abu Mahdzurah menyangka inilah akhir riwayat hidupnya kerana ulahnya itu. Tapi, Rasulullah ﷺ malah mengusap dada dan ubun-ubun pemuda itu dengan tangan beliau yang mulia. Abu Mahdzurah berkata, "Demi Allah, hatiku terasa dipenuhi keimanan dan keyakinan. Dan aku meyakini bahawa ia adalah utusan Allah. "(As-Suhaili dalam ar-Raudh al-Unfu Juz: 7 Hal: 239).

Setelah Abu Mahdzurah beriman, Rasulullah ﷺ mengajarnya azan. Jadi ia orang pertama yang mengumandakan adzan setelah Rasulullah meninggalkan Mekah menuju Madinah. Ia terus menjadi muadzin di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya. Kemudian dilanjutkan oleh keturan-keturunannya hingga waktu yang lama. Ada yang mengatakan hingga masa Imam asy-Syafi'i.

Keempat: Saad al-Qarazh

Saad al-Qarazh adalah mantan budak Ammar bin Yasir. Ia muadzin Rasulullah ﷺ di Masjid Quba.

Ada cerita tersendiri pada laqob al-Qarazh pada nama Saad. Diriwayatkan oleh al-Baghawi bahawa Saad pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang sukarnya perkonomiannya. Nabi ﷺ memberi masukan agar ia berdagang. Lalu, ia pergi ke pasar dan membeli sedikit al-Qarazh (daun pokok yang boleh dibuat untuk menyamak). Kemudian ia jual lagi. Dari penjualan itu, ia mendapat keuntungan yang banyak. Ia pergi menemui Nabi ﷺ untuk mengkhabarkan hal ini. Beliau ﷺ menasihati agar ia menekuni perniagaannya.

Di zaman Rasulullah ﷺ, Saad merupakan muadzin di Masjid Quba. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, sang Khalifah menugaskannya untuk azan di Masjid an-Nabawi. Kerana Bilal tak mau lagi menjadi muadzin setelah Rasulullah ﷺ meninggal dunia. Setelah Saad meninggal dunia, anaknya meneruskan rutin sang ayah. Mengumandangkan azan di masjid Nabi (al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Juz: 3 Hal: 65).

Kelima: Ziyad bin al-Harits ash-Shuda-i

Sebahagian ahli fiqh menyatakan bahawa Ziyad juga termasuk muadzin Rasulullah ﷺ. Berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya bahawa Ziyad pernah azan di hadapan Nabi ﷺ. Tapi hadis tersebut tidak sahih. Kelima nama inilah yang dikumpulkan oleh Syaikh at-Tawudi bin Saudah dalam syairnya:

عمرو بلال و أبو محذورة
سعد زياد خمسة مذكورة
قد أذنوا جميعهم للمصطفى
نالوا بذاك رتبة و شرفا

Amr, Bilal, dan Abu Mahdzurah
Saad, Ziyad, lima orang yang disebut
Semuanya berazan atas perintah al-Musthafa
Mereka mencapai darjat dan kemuliaan kerana amalan tersebut

Namun, pendapat yang -insya Allah- yang kuat, Ziyad tidak termasuk muadzin Rasulullah ﷺ. Allahu a'lam.

Oleh Nurfitri Hadi (@ nfhadi07)
Artikel KisahMuslim.com

Senin, 13 Februari 2017

Kenali Putera dan Puteri Rasulullah


Perbincangan mengenai putra dan putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk pembicaraan yang jarang diangkat. Tidak hairanlah, sebahagian umat Islam tidak mengetahui berapa jumlah putra dan putri beliau atau sesiapa saja nama anak-anaknya.

Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu 'anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,

قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ
"Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain. "(HR Ahmad no.24864)

Apabila beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum berkahwin dengan Maria al-Qibtiyah.

Anak-anak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, "Rasulullah mempunyai tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi kunyah Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan meninggal dunia ketika berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, disebut juga Ath-Thayyib atau ath-Tahir kerana lahir selepas kenabian. Putra yang ketiga adalah Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat ketika berusia 17 atau 18 bulan.

Adapun anak perempuannya berjumlah 4 orang; Zainab yang berkahwin dengan Abu al-Ash bin al-Rabi ', anak saudara Rasulullah dari jalur Khadijah, kemudian Fatimah berkahwin dengan Ali bin Abi Talib, lalu Ruqayyah dan Ummu Qultsum berkahwin dengan Uthman bin Affan.

Butirannya adalah sebagai berikut:

Puteri-puteri Rasulullah

Para ulama sepakat bahawa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu 'anha.

Pertama, putri pertama Rasulullah adalah Zainab binti Rasulullah.

Zainab radhiallahu 'anha berkahwin dengan anak ibu saudaranya, Halah binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi'. Pernikahan ini berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, kerana ikatannya dengan sang suami.

Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-As. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimah syahadah dan memeluk agama mertua dan isterinya. Keluarga kecil yang bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-As dan putri mereka Umamah.

Setelah itu, kadang-kadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika solat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari gendongannya.

Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah.

Ruqayyah radhiallahu 'anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu' anhu. Kedua-duanya turut serta berhijrah ke Habsyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habsyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamakan Abdullah.

Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.

Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia merawat isterinya dan sentiasa mengawasi keadaannya. Pada masa itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas permintaan Rasulullah untuk mejaga anak perempuannya, Utsman pun tidak boleh turut serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah bersamaan dengan kedatangan Zaid bin Haritsah yang mengkhabarkan kemenangan umat Islam di Badar.

Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah.

Setelah Ruqayyah meninggal dunia, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu 'anha. Oleh kerana itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) kerana menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lain.

Uthman dan Ummu Kultsum bersama-sama membina rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya'ban tahun 9 H. Kedua-duanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dikebumikan bersebelahan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu 'anhuma.

Keempat, Fatimah binti Rasulullah.

Fatimah radhiallahu 'anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijrah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu. Pasangan ini dikurniakan putera pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan anak tersebut dinamakan Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dinamakan Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah putri mereka Ummu Kultsum.

Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam sabdanya,

فاطمة بضعة منى -جزء مني- فمن أغضبها أغضبني "رواه البخاري

"Fatimah adalah bahagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah. "(HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد, وفاطمة بنت محمد, ومريم بنت عمران, وآسية بنت مزاحم امرأة فرعون "رواه الإمام أحمد

"Sebaik-baik wanita penduduk syurga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, isteri Firaun." (HR. Ahmad).

Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup ketika beliau wafat adalah Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu 'anha wafat enam bulan setelah sang ayah tercinta meninggal dunia meninggalkan dunia. Ia meninggal dunia pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi '.

Putera-putera Rasulullah

Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau dipanggil Abu al-Qashim (bapanya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan meninggal dunia ketika usia dua tahun.

Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamakan juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.

Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu' anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Usia Ibrahim tidak panjang, ia meninggal dunia pada tahun 10 H ketika berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan pemergian anak kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

"إن العين تدمع, والقلب يحزن, ولا نقول إلا ما يرضى ربنا, وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون" رواه البخاري

"Sesungguhnya mata ini menitiskan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diredhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan pemergianmu wahai Ibrahim. "(HR. Bukhari).

Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, nescaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Ta'ala mengurniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga cuba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaimana dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau memerlukan mereka; ayah, ibu, datuk, dan bapa saudaranya. Hanya anaknya Fatimah yang meninggal dunia selepas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah juga tidak memanjangkan usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Boleh kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua-dua cucu beliau melebih yang sepatutnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan mempunyai keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya ..

Sumber: Islamweb.net

Minggu, 12 Februari 2017

Pemimpin muslim terakhir di Andalusia (Sepanyol)


Pemimpin muslim terakhir di Andalusia (Sepanyol), Abdillah Muhammad bin Al Ahmar, keluar dari istana kerajaan dg hina.Malam itu, Andalusia telah jatuh ke tangan kerajaan Katolik setelah berada di bawah kekuasaan Islam selama lebih dari 800 tahun.Kini, ia tinggalkan istana dgn hati pilu. Dadanya sesak.

Hingga sampai di sebuah bukit yg cukup tinggi. Dari sana ia menatap Istana Al Hambra. Ia menangis tersedu-sedu hingga janggutnya basah kuyup dgn air mata.

Melihat hal itu, ibunya berkata, "Menangislah! Menangislah seperti perempuan! Kerana kau tidak mampu menjaga kerajaanmu sebagaimana laki-laki perkasa! "
Kekuasaan Islam berakhir di Andalusia. Dan belum pernah bangkit lagi hingga detik ini! Umat Islam disana diberi pilihan : Masuk Kristian, dibunuh atau diusir.

Tahu apa? penyebab jatuhnya Andalusia ?


1. Cinta dunia

2. Meninggalkan dakwah dan jihad

3. Berkubang dengan kemaksiatan

4. Menyerahkan urusan bukan pada ahlinya

5. Jahil agama


Bayangkan jika negara kita nanti telah jatuh total ke tangan orang kafir, pemuda Islam menangis dan ibu2 mereka berkata, "Menangis lah seperti perempuan! kerana engkau tidak mampu menjaga negara ini sebagaimana seorang laki2 perkasa!

Maka bersiaplah wahai pemuda Islam. Pelajari baik-baik 5 faktor di atas. Kerana sebab-sebab kejatuhan itu akan selalu sama.