Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL ISLAM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label ARTIKEL ISLAM. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Maret 2017

Negara Islam, "mungkinkah" akan terwujud?







Ada pertanyaan sangat menarik untuk diketahui jawabannya; apakah sebenarnya konsep Islam tentang negara? Sampai seberapa jauhkah hal ini dirasakan oleh kalangan pemikir Islam sendiri? Dan, apakah konsekuensi dari konsep ini jika memang ada? Rangkaian pertanyaan di atas perlu diajukan di sini, karena dalam beberapa tahun terakhir ini banyak diajukan pemikiran tentang Negara Islam, yang berimplikasi pada orang yang tidak menggunakan pemikiran itu dinilai telah meninggalkan Islam.

Jawaban­jawaban atas rangkaian pertanyaan itu dapat disederhanakan dalam pandangan penulis dengan kata­kata: tidak ada. Penulis beranggapan, Islam sebagai jalan hidup (syari’ah) tidak memiliki konsep yang jelas tentang negara. Mengapakah penulis beranggapan demikian? Karena sepanjang hidupnya, penulis telah mencari dengan sia­sia makhluk yang dinamakan Negara Islam itu. Sampai hari inipun ia belum menemukannya, jadi tidak salahlah jika disimpulkan memang Islam tidak memiliki konsep bagaimana negara harus dibuat dan dipertahankan.

Dasar dari jawaban itu adalah tiadanya pendapat yang baku dalam dunia Islam tentang dua hal. Pertama, Islam tidak mengenal pandangan yang jelas dan pasti tentang pergantian pemimpin. Rasulullah Saw digantikan Sayyidina Abu Bakar tiga hari setelah beliau wafat. Selama masa itu masyarakat kaum muslimin, minimal di Madinah, menunggu dengan sabar bagaimana kelangkaan petunjuk tentang hal itu dipecahkan. Setelah tiga hari, semua bersepakat bahwa Sayyidina Abu Bakarlah yang menggantikan Rasulullah Saw melalui bai’at/prasetia. Janji itu disampaikan oleh para kepala suku/wakil­wakil mereka, dan dengan demikian terhindarlah kaum muslimin dari malapetaka. Sayyidina Abu Bakar sebelum meninggal dunia, menyatakan ke­ pada komunitas kaum muslimin, hendaknya Umar Bin Khattab yang diangkat menggantikan beliau, yang berarti telah ditempuh cara penunjukkan pengganti, sebelum yang digantikan wafat. Ini tentu sama dengan penunjukkan seorang Wakil Presiden oleh seorang Presiden untuk menggantikannya di masa modern ini.

Ketika Umar[1] ditikam Abu Lu’luah[2] dan berada di akhir masa hidupnya, ia meminta agar ditunjuk sebuah dewan pemilih (electoral college ­ ahl halli wa al-aqdli), yang terdiri dari tujuh orang, termasuk anaknya, Abdullah, yang tidak boleh dipilih menjadi pengganti beliau. Lalu, bersepakatlah mereka untuk mengangkat Utsman bin Affan sebagai kepala negara/kepala pemerintahan[3]. Untuk selanjutnya, Utsman digantikan oleh Ali bin Abi Thalib. Pada saat itu, Abu Sufyan tengah mempersiapkan anak cucunya untuk mengisi jabatan di atas, sebagai penganti Ali bin Abi Thalib. Lahirlah dengan demikian, sistem kerajaan dengan sebuah marga yang menurunkan calon­calon raja/sultan dalam Islam sampai dengan khilafah Usmaniyyah/ottoman empire yang oleh para “Islam politik” dianggap sebagai prototype pemerintahan harus diadopsi begitu saja sebagai sebuah “formula Islami”.

Demikian pula, besarnya negara yang dikonsepkan menurut Islam, juga tidak jelas ukurannya. Nabi meninggalkan Madinah tanpa ada kejelasan mengenai bentuk pemerintahan bagi kaum muslimin. Di masa Umar bin Khattab, Islam adalah imperium dunia dari pantai timur Atlantik hingga Asia Tenggara. Ternyata tidak ada kejelasan juga apakah sebuah negara Islam berukuran mendunia atau sebuah bangsa saja (wawasan etnis), juga tidak jelas; negara­bangsa (nationstate), ataukah negara ­ kota (city state) yang menjadi bentuk konseptualnya.

Dalam hal ini, Islam menjadi seperti komunisme: manakah yang didahulukan, antara sosialisasi sebuah negara­bangsa yang berideologi satu sebagai negara induk, ataukah menunggu sam­ pai seluruh dunia di­Islam­kan, baru dipikirkan bentuk negara dan ideologinya? Menyikapi analogi negara Komunis, manakah yang didahulukan antara pendapat Joseph Stalin[4] ataukah Leon Trotsky?[5] Sudah tentu perdebatan ini jangan seperti yang dilakukan Stalin hingga membunuh Trotsky di Meksiko.

Hal ini menjadi sangat penting, karena mengemukan gagasan Negara Islam tanpa ada kejelasan konseptualnya, berarti membiarkan gagasan tersebut tercabik­tercabik karena perbedaan pandangan para pemimpin Islam sendiri. Misalnya kemelut di Iran, antara para “pemimpin moderat” seperti Presiden Khatami dengan para Mullah konservatif seperti Khamenei, saat ini. Satu­satunya hal yang mereka sepakati bersama adalah nama “Islam” itu sendiri. Mungkin, mereka juga berselisih paham tentang “jenis” Islam yang akan diterapkan dalam negara tersebut, haruskah Islam Syi’ah atau sesuatu yang lebih “universal”? Kalau harus mengikuti paham Syi’ah itu, bukankah gagasan Negara Islam lalu menjadi milik kelompok minoritas belaka? Bukankah syi’isme hanya menjadi pandangan satu dari delapan orang muslim di dunia saja?

Jelaslah dengan demikian, gagasan Negara Islam adalah sesuatu yang tidak konseptual, dan tidak diikuti oleh mayoritas kaum muslimin. Ia pun hanya dipikirkan oleh sejumlah orang pemimpin, yang terlalu memandang Islam dari sudut institusionalnya belaka. Belum lagi kalau dibicarakan lebih lanjut, dalam arti bagaimana halnya dengan mereka yang menolak gagasan tersebut, adakah mereka masih layak disebut kaum muslimin atau bukan? Padahal yanga menolak justru adalah mayoritas penganut agama tersebut?
Kalau diteruskan dengan sebuah pertanyaan lain, akan menjadi berantakanlah gagasan tersebut: dengan cara apa dia akan diwujudkan? Dengan cara teror atau dengan “menghukum” kaum non­muslim? Bagaimana halnya dengan para pemikir muslimin yang mempertahankan hak mereka, seperti yang dijalani penulis? Layakkah penulis disebut kaum teroris, padahal ia sa­ ngat menentang penggunaan kekerasan untuk mencapai sebuah tujuan. Lalu, mengapakah penulis juga harus bertanggungjawab atas perbuatan kelompok minoritas yang menjadi teroris itu?

Catatan Kaki:
[1] Umar Ibn Khattab ra adalah Khalifah Islam kedua (634 – 644M) setelah Nabi Muhammad saw menggantikan Abu Bakar Ash­Shiddiq. Kepemimpinannya dikenal tegas dan adil, serta berani melakukan interpretasi pemahaman Islam demi penegakan keadilan.
[2] Abu Lu’luah adalah seorang Parsi yang berkomplot dengan seorang bekas pembesar Parsi, Hurmuzan dan Jufainah, karena dendam akibat Umar dianggap telah mengagresi mereka dan membunuh para raja mereka. Sosok Abu Lu’luah, bernama asli Firuz, adalah tawanan perang dari Persia ketika Umar bin Khattab memperluas wilayah kekuasaan Islam. Ia dibawa ke Madinah untuk menjadi budak sebelum menyatakan masuk Islam. Firuz akhirnya dimerdekakan oleh Mughirah bin Syu’bah, sehingga ia disebut maulâ (yang dimerdekakan dan dilindungi). Abu Lu’luah adalah orang yang mempunyai rasa kebangsaan yang tinggi. Meski sudah masuk Islam dan tinggal di Madinah, namun identitas Persia yang pernah memiliki kaisar dan kerjaan besar tidak pernah dilupakannya. Dalam hatinya terdapat dendam kepada Umar bin Khattab, yang telah memerangi kerajaan bangsanya. Inilah yang menjadi motifasi Abu Lu’luah untuk membunuh Umar bin Khattab.
[3]Dalam kondisi terluka, Umar bin Khattab diminta oleh beberapa orang yang ada disekitarnya untuk menunjuk pengganti yang akan menjalankan roda kepemerintahan. Jawaban Umar ketika itu membuat kaget orang­orang yang hadir yaitu: “Apabila saya menunjuk seorang pengganti untuk menjadi khalifah maka orang yang lebih baik ketimbang saya yaitu Abu Bakar pernah melakukan itu, dan jika saya tidak menunjuk pengganti maka orang yang lebih baik ketimbang saya dan Abu Bakar yaitu Rasulullah SAW juga tidak pernah menunjuk pengganti”. Pernyataan Umar di akhir hidupnya yang menjelaskan tentang tidak adanya formula baku dalam suksesi kepemerintahan ini, telah direkam oleh hampir semua kitab hadis yaitu Sahih Al­ Bukhari dalam bab al-Ahkam, Sahih Muslim dalam bab al-Imarah, Sunan Abi Dawud dalam bab al-Kharaj wal Imarah, Tirmizi dalam bab al-Fitan dan juga Musnad Imam Ahmad.
[4] Joseph Stalin (1879 ­1953) adalah salah satu pemimpin terkemuka Uni Soviet pada masa perang sipil di negara itu dan Perang Dunia II, disamping Vladimir Lenin (1870 – 1924) yang digantikannya kemudian.
[5] Leon Trotsky (1879–1940) adalah musuh politik Stalin karena berbeda pandangan soal masa depan Uni Soviet dan kebijakan ekonomi negara itu. Setelah mengantikan kedudukan Lenin, Stalin menjadi diktator dan menindas kaum buruh serta petani secara kejam. Trotsky melawan Stalin dan dia dideportasikan, kemudian harus hidup di Meksiko, dan akhirnya dibunuh oleh seorang intel Soviet.


Dikutip sepenuhnya dari Abdurrahman Wahid. 2006. Islamku Islam Anda Islam Kita. Jakarta: The Wahid Institute.

Dimanakah Tuhan?


Dalam suatu pengajian selepas shalat Isya’ menjelang shalat Tarawih pada bulan Ramadhan 1426 H yang lalu di suatu masjid di daerah Depok, seorang penceramah melontarkan satu pertanyaan kepada para hadirin yang hadir pada saat itu. Pertanyaan yang dilontarkan sangat simpel dan sederhana, yaitu, “Di mana Allah?”. Mendengar pertanyaan yang mungkin belum pernah terdengar, para jamaah yang hadir tersebut diam dan tidak terdengar ada jawaban. Lalu penceramah tersebut mengulangi lagi pertanyaannya, “Bapak-bapak, Ibu-ibu Di mana Allah?”. Setelah ditunggu beberapa saat tidak terdengar juga ada jawaban. Namun tanpa disangka dan diduga dua anak kecil yang berada di shaf (barisan) paling belakang duduk di dekat pintu masuk khusus kaum pria, mereka berdua dengan wajahnya yang sangat polos menjawab, “Allah di langit”.

Dalam kesempatan lain dan di tempat lain, penceramah tersebut juga mengajukan pertanyaan yang sama kepada jamaah yang hadir, “Di mana Allah?”. Ada seorang hadirin yang menjawab, “Allah ada di mana-mana dan Dia ada di setiap tempat”, ada lagi yang mencoba untuk menjawab: “Allah ada di hati kita”. Ada lagi yang lainnya mengatakan, “Allah tidak punya tempat”, yang lain lagi mengatakan, “Kita tidak boleh menanyakan hal itu”.

Allah subhanahu wata’ala adalah Rabb yang haq dan wajib kita ibadahi dan bahkan kita diperintahkan oleh-Nya secara rutin untuk melaksanakan ibadah shalat sebanyak 5 kali sehari semalam sebagai bentuk penyembahan dan pengabdian kita yang sangat agung kepada-Nya. Hal itu kita lakukan agar kita tergolong sebagai hamba-Nya yang bertauhid.
Dan juga setiap do’a yang kita panjatkan dan kita munajatkan kepada-Nya setiap ada waktu dan kesempatan, lalu kita tengadahkan kedua tangan kita “ke atas” yang mengindikasikan bahwa Dzat yang kita sembah adalah Maha Tinggi.

Masih banyak pemahaman aqidah kaum muslimin ini yang perlu diluruskan, sebab mayoritas mereka belum mengenal Allah subhanahu wata’ala secara benar, artinya aqidah mereka masih banyak yang menyimpang, hal ini terbukti dari jawaban-jawaban mereka yang salah ketika menjawab pertanyaan yang terlihat sederhana seperti; “Di mana Allah?”. Ini mengindikasikan bahwa aqidah kaum muslimin masih cukup memprihatinkan dan perlu adanya pembenahan.

Kekeliruan semacam ini sebagai akibat dari informasi-informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan yang ditiupkan oleh manusia-manusia yang kurang paham dalam bidang aqidah, sehingga merusak fithrah kaum muslimin.

Padahal untuk menjawab pertanyaan “Di mana Allah,” tidak mesti seseorang itu berkapasitas sebagai seorang ulama, sebab fithrah manusia yang masih suci akan mampu memberikan jawaban yang tepat. Sebagai contoh adalah kasus di atas; dua anak kecil mampu memberikan jawaban yang benar dan tepat ketika menjawab pertanyaan “Di mana Allah?”.

Marilah kita simak pula sebuah hadits shahih berikut ini, “Seorang shahabat Nabi yang bernama Mu’awiyah Bin Hakam As-Sulamy radhiyallahu ‘anhu, dia memiliki seorang budak wanita yang ingin dia merdekakan, akan tetapi sebelum dia dimerdekakan oleh Mu’awiyah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajukan dua pertanyaan kepada budak wanitanya tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepadanya, “Di mana Allah ?” Lalu dijawab oleh budak wanita itu, “(Allah itu) di langit”, lalu Nabi bertanya lagi, “Siapa saya ini?”, dijawab oleh budak wanita itu, “Engkau adalah Rasulullah.” Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam pun bersabda, “Merdekakan dia, karena dia seorang mukminah (yang beriman dan beraqidah secara benar)”.

Hadits ini diriwayatkan oleh jama’ah Ahli Hadits, diantaranya; Imam Muslim, Imam Malik, Imam Abu Daud, Imam Nasa’i, Imam Ahmad, Imam Baihaqi, Imam Daarimi, Imam Ibnu Khuzaimah, dan lain-lain.

Hadits ini merupakan hujjah (dalil) yang sangat kuat untuk membantah orang-orang yang berkeyakinan bahwa Allah subhanahu wata’ala ada di mana-mana dan Dia berada di setiap tempat. Hadits ini menerangkan dengan sangat jelas tentang keberadaan Allah subhanahu wata’ala “di atas langit”.

Imam Adz-Dzahabi setelah membawakan hadits ini di dalam kitabnya “Al-’Uluw,” beliau berkomentar: “Yang demikian itulah pendapat kami (artinya dia sejalan dengan hadits di atas), setiap ada orang yang bertanya, “Di mana Allah? “Maka dia (orang yang ditanya) dengan fitrahnya akan segera menjawab, “(Allah ) Di atas langit!” Di dalam hadits ini ada dua permasalahan:
 
Pertama; Disyari’atkan seorang muslim bertanya (kepada saudaranya), “Di mana Allah?”,
Kedua; Jawaban orang yang ditanya (hendaklah mengatakan), “Di atas langit!” Barangsiapa yang mengingkari dua permasalahan ini maka dia berarti telah mengingkari Al-Musthafa (Muhammad) shallallahu ‘alaihi wasallam”.

Imam Ad-Darimi membawakan hadits ini dalam kitabnya, Ar-Raddu ‘ala Al-Jahmiyyah. Lalu beliau berkata, “Di dalam hadist Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ini dijelaskan dengan terang, bahwa apabila seseorang tidak mengetahui keberadaan Allah yang berada di atas langit dan bukan di bumi, maka dia bukanlah seorang mukmin. Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam telah menjadikan tanda keimanannya (budak perempuan) tersebut adalah pengetahuannya tentang keberadaan Allah subhanahu wata’ala di atas langit.
Penjelasan tentang istiwa’ (bersemayam) Allah di atas ‘Arsy di langit-Nya telah ditegas-kan oleh Allah sendiri di tujuh tempat dalam Al-Qur’an; (1) S. Thaha ayat 5, (2) S. Al-A’raf ayat 54, (3) S. Yunus ayat 3, (4) S. Ar-Ra’du ayat 2, (5) S. Al-Furqon ayat 59, (6) S. As-Sajdah ayat 4 dan (7) S. Al-Hadid ayat 4.

Madzhab Salaf dan orang-orang yang mengikuti mereka, seperti imam yang empat: Imam Abu Hanifah, Imam Malik, Imam Syafi’i, Imam Ahmad Bin Hambal dan Imam-Imam yang lainnya, termasuk Imam Abul Hasan al-Asy’ary, mereka berkeyakinan sama dan mengimani keberadaan Allah subhanahu wata’ala di atas langit dan bersemayam di ‘Arsy-Nya sesuai dengan kebesaran dan keagungan-Nya.

Dalam kitab Minhaj Al-Firqoh An-Najiyah karya Syaikh Muhammad Jamil Zainu hafidzahullah, beliau menukilkan beberapa ungkapan ulama dari kalangan As-Salafush Sholeh tentang keberadaan Allah subhanahu wata’ala di atas ‘Arsy-Nya, diantaranya:

Imam Al-Auza’iy , berkata, “Kami dari kalangan Tabi’in mengatakan; sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala Yang Maha Mulia sebutan-Nya berada dia atas ‘Arsy-Nya, kami mengimani sifat-sifat-Nya sebagaimana apa adanya menurut Sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Imam Abu Hanifah , berkata, “Barangsiapa yang berkata saya tidak tahu apakah Rabb-ku berada di langit atau di bumi, maka sungguh dia bukan seorang muslim, karena Allah subhanahu wata’ala sesungguhnya telah berfirman, (Ar-Rahmân ‘Alal-’Arysistawâ, (artinya: Dzat Yang Maha Pengasih bersemayam di atas ‘Arsy), dan ‘Arsy-Nya itu di atas langit yang tujuh. Jika dia mengatakan; sesungguh Dia (Allah subhanahu wata’ala) di atas ‘Arsy-Nya bersemayam, akan tetapi saya tidak tahu apakah ‘Arsy itu berada di langit atau di bumi, maka dia juga bukan seorang muslim, karena sesungguhnya dia telah mengingkari bahwa Allah subhanahu wata’ala berada di atas langit. Dan barangsiapa yang mengingkari keberadaan-Nya di langit, berarti dia telah kufur, karena sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala adalah Dzat yang paling tinggi di atas segala yang tinggi, dan para Hamba-Nya meminta (berdo’a) kepada-Nya dengan menengadahkan tangan ke atas dan bukan ke bawah).

Imam Asy-Syafi’i , berkata, “Sesungguhnya Allah subhanahu wata’ala berada di atas ‘Arsy-Nya (dan ‘Arsy-Nya itu) di atas langit-Nya, Dia mendekat kepada makhluk-Nya, (bagaimanapun caranya) sesuai dengan yang Dia kehendaki, dan sesungguhnya Allah turun ke langit dunia (langit pertama), (bagaimanapun caranya) sesuai dengan yang Dia kehendaki”.

Imam Malik , ketika beliau ditanya tentang bagaimana cara “Istiwa`” (bersemayam) Allah subhanahu wata’ala di atas ‘Arsy-Nya, beliau menjawab: “Istiwa` maknanya sudah jelas/terang (tidak perlu ditanyakan lagi), sedangkan bagaimana cara Allah ber-Istiwa’ di atas ‘Arsy-Nya tidak dapat kita ketahui, beriman dengan sifat Istiwa’ Allah ini adalah wajib dan bertanya tentang hal itu (yaitu bagaimana cara Allah ber-Istiwa’ di atas ‘Arsy-Nya) adalah bid’ah. Lalu Imam Malik , memerintahkan agar orang yang bertanya tersebut dikeluarkan dari majlisnya, sebab dia telah ragu terhadap salah satu sifat Allah subhanahu wata’ala yaitu ber-Istiwa’ di atas ‘Arsy-Nya, sedangkan hal itu tidak pernah ditanyakan oleh generasi sebelum mereka.

Imam Ibnu Khuzaimah (beliau ini imamnya para imam), berkata di dalam kitabnya At-Tauhid, “Kami beriman dengan pemberitaan wahyu dari Allah subhanahu wata’ala, sesungguhnya Pencipta kami (Allah), Dia berada di atas ‘Arsy-Nya, kami tidak akan mengganti/mengubah firman Allah subhanahu wata’ala tentang hal ini, dan kami tidak akan mengucapkan perkataan yang tidak pernah dikatakan oleh Allah kepada kami, (tidak) sebagaimana kaum yang menghilangkan sifat-sifat Allah subhanahu wata’ala seperti kaum Jahmiyyah yang telah berkata: sesungguhnya Allah Istaula (berkuasa) di atas ‘Arsy bukan Istawa (beristiwa’), mereka ini dengan lancangnya telah mengubah firman Allah subhanahu wata’ala yang tidak pernah diucapkan Allah kepada mereka. Sikap mereka ini sebagaimana sikap kaum Yahudi yang telah diperintahkan oleh Allah subhanahu wata’ala untuk mengucapkan perkataan, “Hiththotun” (ampunilah dosa-dosa kami) tapi mereka justru mengucapkan, “Hinthotun” (gandum), seperti itulah kaum Jahmiyyah”. (Abu Abdillah Dzahabi).

Artikel Buletin An-Nur : Sabtu, 21 Januari 06
Filed under: – alsofwah.or.id

Jumat, 03 Maret 2017

"DAJJAL" TELAH "MUNCUL" DI KHURASAN,? INDIA SELATAN, BENARKAH?

Inilah sebagian dari tanda-tanda akhir zaman. Bahwa telah muncul "Dajjal" bernama Sai Baba, dia lahir dan tinggal di Desa Nilayam Puthaparti, wilayah timur Khurasan, tepatnya India Selatan. Merujuk pada riwayat hadist dari Jamiu at Tirmidzi, "Rasulullah SAW bersabda kepada kami, Dajjal akan keluar dari bumi ini di bagian timur bernama Khurasan".


Maka boleh jadi yang dimaksud Rasulullah SAW tersebut ialah benar adanya. Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Nabi SAW. bersabda: "Hari Kiamat tidak akan datang hingga 30 Dajjal (pendusta) muncul, mereka semua berdusta tentang Allah dan Rasul-Nya." Dan Sai Baba ini bisa jadi adalah salah satu dari 30 dajjal-dajjal kecil yang akan membuka jalan bagi munculnya al-Masih al-Dajjal (Dajjal nantinya akan berperang dengan Imam Mahdi dan di bunuh oleh nabi Isa bin Maryam).


SIAPA SAI BABA ITU DAN BAGAIMANA CIRI-CIRI DAJJAL MENURUT RASULULLAH SAW?
Laki-laki ini memiliki kemampuan menghidupkan orang mati,-Menyembuhkan orang lumpuh dan buta,-Bahkan mampu menurunkan hujan dan mengeluarkan tepung dari tangannya.-Ia juga mampu berjalan melintasi belahan bumi dalam sekejap,-Menciptakan patung emas, merubah besi menjadi emas, dan banyak lagi berbagai fitnah yang ditunjukkan oleh Sai Baba kepada ribuan orang Bahkan - jutaan yang datang dari berbagai suku bangsa dan agama.

Saat ini laki-laki ini sudah memiliki puluhan juta pengikut.
"Dajjal adalah seorang laki-laki yang gemuk, berkulit merah dan berambut keriting..." (HR.Bukhari dan Muslim). "Di awal kemunculannya, Dajjal berkata, Aku adalah nabi, padahal tidak ada nabi setelahku. Kemudian ia memuji dirinya sambil berkata, Aku adalah Rabb kalian, padahal kalian tidak dapat melihat Rabb kalian sehingga kalian mati (HR.Ibnu Majah).

BEBERAPA PERSAMAAN DAJJAL DAN SAI BABA:
1. Dajjal seorang laki yang berpostur pendek, gempal, berambut kribo, berkaki bengkok (agak pengkor). Sai Baba seorang yang berpostur pendek dan berambut kribo.
2. Dajjal memiliki mata yang buta. Sai Baba pernah mengalami kebutaan di waktu muda kemudian sembuh kembali.
3. Dajjal datang dan bersama ada gunung roti dan sungai air. Sai Baba memiliki kemampuan mengeluarkan vibhuti (tepung suci) dari udara melalui tangannya.
4. Dajjal memiliki kemampuan berpindah dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat dan kecepatannya seperti hujan badai atau secepat awan yang ditiup angin kencang. Sai Baba memiliki kemampuan berjalan menjelajahi bumi dalam hitungan kejapan mata.
5. Dajjal mengikuti pengikut yang sangat banyak, bahkan di akhir zaman nanti banyak manusia yang berangan-angan untuk berjumpa dengan Dajjal. Sai Baba memiliki pengikut yang jumlahnya puluhan juta manusia dari berbagai macam suku, bangsa, negara dan agama.
6. Dajjal akan muncul dengan mengaku sebagai orang bijak/ baik, sehingga banyak sekali orang yang tertarik untuk mengikutinya. Sai Baba mengaku sebagai orang yang bijak yang membawa misi perdamaian, cinta kasih menghapuskan segala persengketaan dengan bijaksana.
7. Dajjal akan muncul dan sebagai nabi. Sai Baba memposisikan dirinya sebagai nabi kepada pengikut-pengikutnya.
8. Dajjal akan menggunakan nama Al-Masih. Sai Baba mengaku akan menjelma sebagai Isa Al-Masih setelah tahun 2020.
9.Dajjal akan mengaku sebagai Tuhan. Sai Baba mengklaim bahwa dirinya adalah Tuhan penguasa alam semesta.
10. Dajjal akan mendakwahkan agama Allah. Dalam banyak majelis darshanya Sai Baba banyak berbicara tentang Islam, Al-Qur'an dan keharusan untuk memahaminya.
11. Dajjal mampu menghidupkan orang mati dan menyembuhkan orang sakit. Sai Baba memiliki kemampuan menghidupkan orang mati juga menyembuhkan penyakit kanker.
12. Dajjal dapat menurunkan hujan. Sai Baba memiliki kemampuan menurunkan hujan dan mendatangkan air untuk irigasi (di NTT sedang di bangun proyek Sai Baba untuk pengairan di daerah yang kering).
13. Dajjal bisa mengeluarkan perbendaharaan (perhiasan dan harta) dari bangunan yang roboh, lalu perbendaharaan itu akan mengikuti ratunya. Sai Baba mampu menciptakan patung emas, kalung emas, injil mini dan berbagai bentuk medalai berlafadz ALLAH dalam sekejap.
14. Dajjal akan membunuh seseorang dan menghidupkannya kembali. Sai Baba bisa menghidupkan orang yang sudah meninggal dunia.
15. Dajjal bisa berpindah raga dan tempat dari satu bentuk ke bentuk lainnya. Sai Baba bisa berpindah dari satu jasad ke jasad lainnya yang merupakan benruk reinkarnasi dirinya.
16. Dajjal bisa membesarkan tubuhnya. Sai Baba memliki kemampuan berjalan di udara dan membuat kemukjizatan pada sebuah pesawat terbang.
17. Dajjal biasa keluar masuk pasar dan makanan. Sai Baba juga manusia biasa yang makan dan minum sebagaimana manusia lainnya, ia juga bisa berjalan ke pasar, rumah sakit, proyek irigasi dan tempat lain yang biasa dikunjungi manusia.
18. Dajjal bisa memerintahkan bumi untuk mengeluarkan tumbuh-tumubuhnan dan air. Sai baba bisa mengeluarkan air dengan hentakan kakinya.
19. Dajjal tidak memliki anak. Sai Baba mandul, ia tidak beranak dan tidak berkeluarga (tidak menikah).
20. Dajjal memimpin orang yahudi. Sai Baba memiliki misi menyebarkan teologi zionis.
21. Dajjal muncul di zaman pertikaian. Sai Baba mengklaim bahwa ia datang dari masa banyak pertikaian dan persengketaan, dan kedatangannya untuk menegakkan kebenaran dan membinasakan kejahatan.
Kesimpulan: Bahwa sifat Dajjal dan Sai Baba yang diutarakan diatas adalah bagian dari sifat salah satu 30 dajjal-dajjal kecil (pendusta-pendusta akhir zaman) yang akan membuka jalan bagi munculnya al-Masih al-Dajjal (Dajjal besar).

Dan ciri-cirinya menurut riwayat hadits shahih adalah sebagai berikut:
Dajjal buta sebelah seperti buah anggur.-Kedua matanya ada tulisan kafir yang dapat dibaca oleh orang beriman.-Dajjal tinggal di bumi selama 40 hari, 1 hari seperti setahun, 1 hari berikutnya seperti sebulan, 1 hari berikutnya seperti seminggu, 1 hari berikutnya seperti hari biasa. Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:Rasulullah saw. bersabda: "Tidak ada satu negeri yang tidak dimasuki Dajjal, kecuali Mekah dan Madinah, dan tidak ada satu jalan di Madinah, kecuali terdapat malaikat yang berbaris menjaganya. Maka Dajjal singgah di daerah rawa, kemudian Madinah bergoncang tiga kali goncangan, sehingga seluruh orang kafir dan munafik keluar dari sana menuju ke tempat Dajjal." Rasulullah SAW bersabda : “Bukankah sesungguhnya ia itu bermata sebelah, dan tertulis di antara kedua mata dajjal itu kata kafir, yang dapat dibaca oleh setiap Mukmin.” (Muttafaqun ‘alaih) Dan dalam riwayat yang lain dinyatakan: “Tertulis diantara dua matanya huruf kaf, fa’, dan ra’.”(HR. At-Tirmidzi)

Hadist riwayat Muslim, dari Nawwas bi Sam’an: Rasullulah SAW mengatakan, "Dajjal adalah seorang pemuda berambut keriting, matanya sebelah kanan celek, aku menyerupakannya dengan Abdul Uzza bin Qathan (lelaki Quraisy yang hidup di zaman Jahiliyah). Maka barang siapa yang menemuinya bacalah surat Al-Kahfi. Ia keluar dari sebuah jalan antara Syam dan Iraq, lalu ia berbuat binasa kesana kemari ” ALLAHU AKBAR! LA HAWLA WA LA QUWWATA ILLA BILLAHIL "ALIYUL ADZHIM…. Sudah selayaknya kita senantiasa memohon perlindungan hanya kepada Allah SWT saja. Bacalah selalu doa di bawah ini selepas shalat Fardhu, di akhir tahiyyat sebelum salam, insya Allah, kita selalu dalam lindungan-Nya.

"ALLAHUMMA INNI 'AUDZU BIKA MIN ADZABIN JAHANNAM, WA MIN ADZABIN QABRI, WA MIN FITNATIN MAHYA WA MAMAAT, WA MIN SYAHRII FITNATIN MAHSYIHIL DAJJAL"
“Ya Allah, aku berlindung kepadaMu dari azab neraka Jahannam, aku berlindung kepadaMu dari azab kubur, kuberlindung kepadaMu dari fitnah kehidupan dunia dan kematian serta kuberlindung kepadaMu dari kejahatan dan fitnah Al-Masih Dajjal”.

Konspirasi Dajal bersifat matrialistik sekuler, dia datang dan "berdakwah" dengan membawa perumpamaan air, namun pada hakikatnya adalah api. Surga yang dia tawarkan tapi pada hakikatnya adalah neraka. Neraka yang dia tawarkan tapi pada hakikatnya adalah surga. Gaya bicara Dajjal, tidak lain adalah seorang pendusta besar! Shalat adalah buang-buang waktu, Alquran dan agama hanyalah simbol, bahkan ia kerap mendustakan keberadaan para nabi-nabi terdahulu dan mengadakan fitnah didalam cerita/kisah rasul-rasul terdahulu.

Itulah sebagian sifat dari Dajjal laknatullah alaihi! Tujuannya hanya ingin mengkafirkan penduduk bumi dan memurtadkan orang-orang Islam agar keluar dari agamanya dengan dalih, Islam adalah agama setan dan masih banyak lagi. Naudzu billahi min dzalik!

Padahal Allah telah menjelaskan dalam Quran: "Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. (Ali-’Imran:18-19)

Waspadalah wahai kaum muslimin dan mukminat!
Tulisan ini disarikan dari berbagai sumber yang penulis baca, minimal kita sudah berijtihad untuk berhati-hati di akhir zaman yang penuh dengan fitnah ini.  

Wallahu a'lam bisshoab.

Jumat, 17 Februari 2017

Makhluk-makhluk yang Dikisahkan dalam Al Quran dan Hadist

Makhluk-makhluk yang Dikisahkan dalam Al Quran dan Hadist

DALAM memahami ajaran Al-Quran dan Hadis Nabi Muhammad SAW, tentunya kita pernah mendengar makhluk mitos yang keberadaannya diceritakan oleh kitab dan hadis. Berikut di antaranya.

1. Buraq

Makhluk yang diciptakan Allah SWT terbuat dari cahaya adalah sesosok makhluk tunggangan ajaib, yang membawa Rasulullah SAW dari Masjid al-Aqsa menuju Mi'raj ketika peristiwa Israk Mikraj. Dalam Al-Quran Q.S. Al-Baqarah ayat 19 "buraq" dapat diartikan sebagai "Kilat". Sedangkan, dalam kamus "buraq" diertikan sebagai "binatang kendaraan Nabi Muhammad SAW".

2. Dabbat al-Ard

Dalam islam Dabbat al-Ard adalah binatang buas atau raksasa yang muncul dari perut bumi. Binatang ini disebut-sebut sebagai salah satu tanda sebelum datangnya hari penghakiman. Dia akan keluar di kota Mekah dekat gunung Shafa, selepas peristiwa Matahari terbit dari Barat, ia akan berbicara dengan kata-kata yang fasih dan jelas. Dabbat al-ard ini akan membawa tongkat Nabi Musa dan cincin Nabi Sulaiman.

3. Ya'juj dan Ma'juj

Sekelompok manusia Ya'juj dan Ma'juj dalam tradisi keagamaan digambarkan dalam istilah yang ambigu (tidak jelas). yang disebut-sebut akan muncul di akhir zaman, dengan kekuatan sebagai perosak dan penghancur kehidupan di muka bumi.

Ciri utama mereka adalah sebagai perosak dengan jumlah yang sangat besar sehingga ketika mereka turun dari gunung seakan-akan air bah yang mengalir, tidak pandai berbicara dan tidak fasih, bermata kecil (sipit), berhidung kecil, lebar mukanya, merah warna kulitnya seakan-akan wajahnya seperti perisai dan sifat-sifat lain.

4. Imam Mahdi

Imam Mahdi atau seseorang yang memandu adalah seorang muslim berusia muda yang akan dipilih oleh Allah untuk menghancurkan semua kezaliman dan menegakkan keadilan di muka bumi sebelum datangnya hari kiamat.

Semasa kepemimpinannya Imam Mahdi satu demi satu kedzaliman akan tumbang takluk dibawah kekuasaanya. Kemenangan demi kemenangan yang diraih Imam Mahdi dan pasukannya akan membuat murka raja kezaliman atau Dajjal. sehingga membuat Dajjal keluar dari persembunyiannya dan berusaha membunuh Imam Mahdi serta pengikutnya.

5. Dajjal

Nabi Muhammad SAW mengingatkan kepada para pengikutnya untuk membaca dan menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi sebagai perlindungan dari Dajjal, dan kalau boleh berlindung di kota Madinah dan Makkah, kerana Dajjal tidak akan pernah boleh masuk kota tersebut yang dijaga oleh para malaikat.

Dajjal digambarkan sebagai tokoh kafir yang membawa fitnah di akhir zaman. Rasulullah SAW bersabda: "Sejak Allah swt menciptakan Nabi Adam A.S. sampai ke hari kiamat nanti, tidak ada satu ujian pun yang lebih dahsyat daripada Dajjal ".

6. Azazil

Azazil disebut sebagai bapak dari bangsa jin. Ada pula yang menyebutkan bahawa nama asal Iblis adalah al-Harits. Menurut syariat Islam, Azazildiciptakan sebelum Nabi Adam, Azazil pernah menjadi Imam para Malaikat (Sayyid al-Malaikat) dan Khazin al-Jannah (Bendaharawan Syurga).

Pada awalnya azazil menjadi kebanggaan para malaikat dan menjadi pemimpin malaikat Karubiyyuun dan masih banyak lagi. Namun, Allah SWT melaknat dan mengubah wajahnya yang cemerlang menjadi seperti babi hutan.

Kepalanya diubah seperti kepala unta, dadanya seperti daging yang menonjol di atas punggung. Kedua matanya terbelah pada sepanjang permukaan wajahnya.Lubang hidungnya terbuka seperti cerek tukang bekam, kedua bibirnya seperti bibir lembu, taringnya keluar seperti taring babi hutan dan janggut terdapat sebanyak tujuh helai.

Azazil diberi umur hingga hari akhir kiamat. Dengan janji untuk menyesatkan manusia sebanyak mungkin dan menemaninya di neraka Jahannam kelak.

7. Anqa '

Dalam mitologi islam Anqa digambarkan seperti burung besar misteri. Burung ini sering di identikkan dengan burung Simurgh dari Parsi dan Phoenix dari Mesir kuno.

Burung ini dikisahkan tinggal di sebuah gunung tinggi yang bernama Gunung Falaj. Apabila burung ini terbang, maka dia sanggup menutup matahari seperti awan. Bulunya mempunyai warna yang sangat banyak, lehernya seperti leher unta, mempunyai empat sayap, dua panjang serta dua lagi saiznya lebih pendek.

Walaupun kewujudannya belum dapat dibuktikan secara ilmiah.sebagai umat islam yang beriman kita harus mempercayai adanya makhluk-makhluk tersebut.

Kamis, 16 Februari 2017

Selepas Subuh, Rasulullah Lakukan Ini

Selepas Subuh, Rasulullah Lakukan Ini


Hidup di muka bumi ini ditentukan oleh masa. Salah satunya waktu malam menjelang pagi. Di sana terdapat satu kewajipan bagi umat Islam, yakni solat subuh. Ya, solat subuh yang terdiri dari dua rakaat ini merupakan hal yang tidak boleh ditinggalkan oleh umat muslim. Dan tahukah anda apa yang dilakukan Rasulullah selepas subuh?

Setelah ketenangan kota Madinah dan terbitnya fajar, setelah melaksanakan solat subuh berjamaah di masjid, Rasulullah SAW duduk untuk berzikir kepada Allah, kemudian duduk dua rakaat.

Dari Jabir RA bin Samurah RA, "Bahawasanya Nabi SAW apabila selesai solat subuh, duduk di tempat shalatnya hingga matahari meninggi," (HR. Muslim).

Rasulullah SAW telah mengajarkan untuk melakukan sunnah yang agung ini, dan mengingatkan besarnya pahala.

Dari Anas RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Barang siapa yang solat Subuh berjemaah, kemudian duduk berzikir kepada Allah hingga terbit matahari, kemudian shalat dua rakaat, maka ia mendapat pahala haji dan umrah dengan sempurna, sempurna, sempurna," (HR. Tirmidzi) . []

Sumber: Suatu Hari di Rumah Rasulullah / Karya: Abdul Malik al Qasim / Penerbit: Darul Qaasam

Rabu, 15 Februari 2017

Demi Jaga Kehormatan, Wanita Ini Rela Tahan Lapar

Demi Jaga Kehormatan, Wanita Ini Rela Tahan Lapar


SUDAH menjadi kewajipan bagi seorang wanita untuk menjaga kehormatan dirinya. Tetapi, seringkali keperluan hidup melemahkan mereka. Sehingga, kehormatan digadaikan demi memenuhi keperluan. Nah, jangan sampai kita termasuk salah satu orang yang melakukan hal itu. Kita perlu belajar dari wanita yang satu ini nih.

Ketika itu, tukang besi sedang duduk di rumahnya melepas lelah setelah seharian bekerja, tiba-tiba terdengar pintu rumahnya diketuk orang. Si tukang besi keluar untuk melihatnya, pandangannya menubruk pada sesosok wanita cantik yang tak lain adalah jirannya.

"Saudaraku, aku menderita kelaparan. Jika bukan kerana tuntutan agamaku yang menyuruh untuk memelihara jiwa (Hifdz al-Nafs), aku tidak akan datang ke rumahmu. Mahukah engkau memberi makanan padaku kerana Allah? "Tutur wanita itu.

Ketika itu, memang tengah datang musim paceklik (kemarau). Sawah dan ladang mengering. Tanah pecah berbongkah-bongkah. Padang rumput menjadi tandus hingga hewan ternak menjadi kurus dan akhirnya mati. Makanan menjadi langka, maka tanpa ragu-ragu kelaparan melanda sebahagian besar penduduk desa itu. Hanya sebahagian kecil yang masih boleh bertahan.

"Tidakkah engkau tahu bahawa aku mencintaimu? Akan kuberi engkau makanan, tetapi engkau harus melayaniku semalam, "kata tukang besi itu.

Si tukang besi memang jatuh hati kepada tetangganya itu. Dia merayunya dengan berbagai cara dan taktik, namun tak juga berjaya meluluhkan hati wanita itu.

"Lebih baik mati kelaparan daripada durhaka kepada Allah," ujar wanita itu lagi sambil berlalu menuju rumahnya.

Setelah dua hari berlalu, wanita itu kembali mendatangi rumah si tukang besi dan mengatakan hal yang sama. Demikian pula jawaban si tukang besi.

Ia akan memberi makanan asalkan wanita itu mau menyerahkan dirinya. Mendengar jawapan yang sama, wanita itu pun kembali ke rumahnya.

Dua hari kemudian, wanita itu datang lagi ke rumah tukang besi itu dalam keadaan payah. Suaranya parau, matanya sayu, dan belakangnya bengkok kerana menahan lapar yang tiada tara. Ia kembali mengatakan hal serupa. Begitu pula jawaban si tukang besi, sama dengan yang sudah-sudah. Wanita itu kembali ke rumahnya dengan tangan kosong untuk kali ketiga.

Ketika itulah, Allah memberikan hidayah-Nya kepada si tukang besi. "Sungguh celaka aku ini, seorang wanita mulia datang kepadaku, dan aku terus berlaku dzalim kepadanya," tutur tukang besi dalam hatinya. "Ya Allah aku bertaubat kepada-Mu dari perbuatanku dan aku tidak akan mengganggu wanita itu lagi selamanya."

Si tukang besi itu bergegas mengambil makanan dan pergi ke rumah wanita itu. Diketuknya pintu rumah wanita itu. Tak lama berselang, kerekek, kelihatan pintu terbuka dan muncullah sesosok wanita yang nampak kuyu. Melihat si tukang besi berdiri di depan pintu rumahnya, wanita itu bertanya, "Apa keperluanmu datang ke rumahku?"



"Aku bermaksud mengantarkan sedikit makanan yang aku punya. Jangan bimbang, aku memberinya kerana Allah, "jawab si tukang besi itu.

"Ya Allah, jika benar apa yang dikatakannya, maka haramkanlah ia dari api di dunia dan akhirat," tutur wanita itu seraya menengadahkan kedua tangannya ke langit.

Si tukang besi itu pulang ke rumahnya. Ia memasak makanan yang tersisa buat dirinya.

Tiba-tiba secara tak sengaja bara api mengenai kakinya, namun kaki si tukang besi itu tidak terbakar. Bergegas ia menemui wanita itu lagi.

"Wanita yang mulia, Allah telah mengabulkan doamu," ujar si tukang besi.

Seketika itu, wanita itu sujud syukur kepada Allah.

"Ya Allah engkau telah mewujudkan do'aku, maka cabutlah nyawaku saat ini juga." Terdengar suara lirih dari mulut wanita itu dalam sujudnya. Allah kembali mendengar doanya. Wanita itupun berpulang ke Rahmatullah dalam keadaan sujud.

Demikianlah kisah seorang wanita yang menjaga kehormatannya meskipun harus menahan rasa lapar yang tiada tara.

Setiap muslimah mestinya dapat mengambil i'tibar (pelajaran berharga) dari berbagai kisah wanita sholehah yang telah diuraikan di muka. Merekalah suri tauladan dalam kehidupan seharian, bukan orang-orang yang menawarkan gaya hidup hedonisme dan materialism.

sumber islampos.com

Selasa, 14 Februari 2017

MUADZIN-MUADZIN RASULULLAH ﷺ

MUADZIN-MUADZIN RASULULLAH ﷺ


Muadzin adalah pengumandang azan. Memanggil dan mengingatkan kaum muslimin telah masuk waktu solat tertentu. Syariat azan datang selepas perintah solat. Solat disyariatkan di Mekah. Sedangkan azan disyariatkan di Madinah. Artinya, ada masa yang dilalui kaum muslimin, masuk waktu solat tanpa mengumandangkan azan.

Azan disyariatkan pada tahun pertama hijrah Rasulullah ﷺ. Diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dan Muslim, Abdullah bin Umar radhiallahu 'anhuma berkata,

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلاَ تَبْعَثُونَ رَجُلاً يُنَادِي بِالصَّلاَةِ فَقَالَ رَسُولُ الله يَا بِلاَلُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلاَةِ
"Dulu, kaum muslimin ketika datang ke Madinah, mereka berkumpul. Mereka menganggarkan waktu solat tanpa ada yang menyeru. Hingga suatu hari, mereka berbincang-bincang tentang hal itu. Ada yang mengatakan, 'Gunakan saja loceng seperti loceng Nashara'. Dan yang lain menyatakan 'Gunakan saja trompet seperti trompet Yahudi'. Umar berkata, 'Tidakkah kalian mengangkat seseorang untuk menyeru shalat?' Lalu Rasulullah ﷺ bersabda, 'Wahai, Bilal. Berdirilah dan serulah untuk solat '. "

Dari hadis ini, kita dapat mengetahui bahawa Bilal adalah muadzin Rasulullah ﷺ. Yang jadi pertanyaan, apakah hanya Bilal? Sedangkan di masa Rasulullah ﷺ, sekurang-kurangnya kaum muslimin mempunyai 3 buah masjid. Masjid al-Haram, Masjid an-Nabawi, dan Masjid Quba. Letaknya berjauhan sehingga tidak mungkin hanya Bilal yang menjadi muadzin Rasulullah ﷺ. Lalu siapa saja muazzin-muazzin Rasulullah?

Pertama: Bilal bin Rabah

Bilal bin Rabah merupakan orang yang pertama-tama memeluk Islam. Ia merasakan siksaan Quraisy di awal datangnya agama suci ini. Ia menjadi muadzin Rasulullah ﷺ sepanjang hidup Nabi. Dalam keadaan safar maupun mukim. Ada yang menyatakan ia sempat beberapa saat menjadi muadzin di masa Abu Bakar. Dan tentu saja pernah satu kali mengumandangkan azan di zaman Umar. Kerana para sahabat rindu dengan azannya. Dan ingin mengingat Rasulullah ﷺ.

Tentu banyak keutamaan Bilal. Banyak pula ayat-ayat Al-Quran yang turun, dan Bilal menjadi bahagian dari kandungan ayat tersebut.

Kedua: Ibnu Ummi Maktum

Namanya adalah Amr bin Qays bin Zaidah bin al-Asham. Ia memeluk Islam di Mekah. Walaupun buta, tapi Amr termasuk orang yang pertama menyambut seruan Nabi ﷺ hijrah ke Madinah.

Diriwayatkan dari jalan Ibnu Ishaq dari al-Barra, ia berkata, "Yang pertama datang kepada kami adalah Mush'ab bin Umair. Kemudian datang Ibnu Ummi Maktum. Rasulullah mengangkatnya sebagai pemimpin Madinah apabila pergi berperang. Ia mengimami masyarakat. "(Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Juz: 4 Hal: 495).

Az-Zubair bin Bakar berkata, "Ibnu Ummi Maktum pergi menuju Perang Qadisiyah. Di sanalah ia syahid. Pada masa itu ia memegang bendera. "(Al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Juz: 4 Hal: 495).

Ibnu Ummi Maktum sama seperti Bilal, muadzin Rasulullah ﷺ di Madinah.

Ketiga: Abu Mahdzurah

Namanya adalah Aus bin Mughirah al-Jumahi. Rasulullah ﷺ memerintahkannya untuk mengumandangkan azan di Mekah sekembalinya beliau dari Hunain.

Ketika Mekah berhasil ditaklukkan kaum muslimin, Rasulullah ﷺ memerintahkan Bilal untuk mengumandangkan azan dari atas Kaabah. Sebahagian pemuda Quraisy, yang masih belum lapang dada menerima Islam, menirukan suara Bilal. Mereka marah dan bermaksud mengejek dia. Sampai salah seorang pemuda yang bernama Abu Mahdzurah al-Jumahi pun meniru-niru azan Bilal.

Abu Mahdzurah, pemuda 16 tahun, termasuk orang Quraisy yang paling merdu suaranya. Apabila ia mengangkat suara mengumandangkan azan dengan maksud ejekan, Rasulullah ﷺ mendengarnya. Nabi memanggilnya dan mendudukkannya di hadapan beliau. Abu Mahdzurah menyangka inilah akhir riwayat hidupnya kerana ulahnya itu. Tapi, Rasulullah ﷺ malah mengusap dada dan ubun-ubun pemuda itu dengan tangan beliau yang mulia. Abu Mahdzurah berkata, "Demi Allah, hatiku terasa dipenuhi keimanan dan keyakinan. Dan aku meyakini bahawa ia adalah utusan Allah. "(As-Suhaili dalam ar-Raudh al-Unfu Juz: 7 Hal: 239).

Setelah Abu Mahdzurah beriman, Rasulullah ﷺ mengajarnya azan. Jadi ia orang pertama yang mengumandakan adzan setelah Rasulullah meninggalkan Mekah menuju Madinah. Ia terus menjadi muadzin di Masjid al-Haram hingga akhir hayatnya. Kemudian dilanjutkan oleh keturan-keturunannya hingga waktu yang lama. Ada yang mengatakan hingga masa Imam asy-Syafi'i.

Keempat: Saad al-Qarazh

Saad al-Qarazh adalah mantan budak Ammar bin Yasir. Ia muadzin Rasulullah ﷺ di Masjid Quba.

Ada cerita tersendiri pada laqob al-Qarazh pada nama Saad. Diriwayatkan oleh al-Baghawi bahawa Saad pernah mengadu kepada Rasulullah ﷺ tentang sukarnya perkonomiannya. Nabi ﷺ memberi masukan agar ia berdagang. Lalu, ia pergi ke pasar dan membeli sedikit al-Qarazh (daun pokok yang boleh dibuat untuk menyamak). Kemudian ia jual lagi. Dari penjualan itu, ia mendapat keuntungan yang banyak. Ia pergi menemui Nabi ﷺ untuk mengkhabarkan hal ini. Beliau ﷺ menasihati agar ia menekuni perniagaannya.

Di zaman Rasulullah ﷺ, Saad merupakan muadzin di Masjid Quba. Pada masa pemerintahan Abu Bakar, sang Khalifah menugaskannya untuk azan di Masjid an-Nabawi. Kerana Bilal tak mau lagi menjadi muadzin setelah Rasulullah ﷺ meninggal dunia. Setelah Saad meninggal dunia, anaknya meneruskan rutin sang ayah. Mengumandangkan azan di masjid Nabi (al-Ishabah fi Tamyiz ash-Shahabah, Juz: 3 Hal: 65).

Kelima: Ziyad bin al-Harits ash-Shuda-i

Sebahagian ahli fiqh menyatakan bahawa Ziyad juga termasuk muadzin Rasulullah ﷺ. Berdasarkan hadis riwayat Imam Ahmad dalam Musnad-nya bahawa Ziyad pernah azan di hadapan Nabi ﷺ. Tapi hadis tersebut tidak sahih. Kelima nama inilah yang dikumpulkan oleh Syaikh at-Tawudi bin Saudah dalam syairnya:

عمرو بلال و أبو محذورة
سعد زياد خمسة مذكورة
قد أذنوا جميعهم للمصطفى
نالوا بذاك رتبة و شرفا

Amr, Bilal, dan Abu Mahdzurah
Saad, Ziyad, lima orang yang disebut
Semuanya berazan atas perintah al-Musthafa
Mereka mencapai darjat dan kemuliaan kerana amalan tersebut

Namun, pendapat yang -insya Allah- yang kuat, Ziyad tidak termasuk muadzin Rasulullah ﷺ. Allahu a'lam.

Oleh Nurfitri Hadi (@ nfhadi07)
Artikel KisahMuslim.com

Senin, 13 Februari 2017

Kenali Putera dan Puteri Rasulullah


Perbincangan mengenai putra dan putri Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam termasuk pembicaraan yang jarang diangkat. Tidak hairanlah, sebahagian umat Islam tidak mengetahui berapa jumlah putra dan putri beliau atau sesiapa saja nama anak-anaknya.

Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari Ummul Mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu 'anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya,

قَدْ آمَنَتْ بِي إِذْ كَفَرَ بِي النَّاسُ وَصَدَّقَتْنِي إِذْ كَذَّبَنِي النَّاسُ وَوَاسَتْنِي بِمَالِهَا إِذْ حَرَمَنِي النَّاسُ وَرَزَقَنِي اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ وَلَدَهَا إِذْ حَرَمَنِي أَوْلَادَ النِّسَاءِ
"Ia telah beriman kepadaku tatkala orang-orang kafir kepadaku, ia telah membenarkan aku tatkala orang-orang mendustakan aku, ia telah membantuku dengan hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tidak membantuku, dan Allah telah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tidak menganugerahkan kepadaku anak-anak dari wanita-wanita yang lain. "(HR Ahmad no.24864)

Apabila beliau mengucapkan kalimat ini, beliau belum berkahwin dengan Maria al-Qibtiyah.

Anak-anak Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam

Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, "Rasulullah mempunyai tiga orang putra; yang pertama Qasim, namanya menjadi kunyah Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan meninggal dunia ketika berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, disebut juga Ath-Thayyib atau ath-Tahir kerana lahir selepas kenabian. Putra yang ketiga adalah Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat ketika berusia 17 atau 18 bulan.

Adapun anak perempuannya berjumlah 4 orang; Zainab yang berkahwin dengan Abu al-Ash bin al-Rabi ', anak saudara Rasulullah dari jalur Khadijah, kemudian Fatimah berkahwin dengan Ali bin Abi Talib, lalu Ruqayyah dan Ummu Qultsum berkahwin dengan Uthman bin Affan.

Butirannya adalah sebagai berikut:

Puteri-puteri Rasulullah

Para ulama sepakat bahawa jumlah putri Rasulullah ada 4 orang, semuanya terlahir dari rahim Ummul Mukminin Khadijah radhiallahu 'anha.

Pertama, putri pertama Rasulullah adalah Zainab binti Rasulullah.

Zainab radhiallahu 'anha berkahwin dengan anak ibu saudaranya, Halah binti Khuwailid, yang bernama Abu al-Ash bin al-Rabi'. Pernikahan ini berlangsung sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan tetapi sang suami, Abu al-Ash, tetap dalam agama jahiliyah. Hal ini menyebabkan Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, kerana ikatannya dengan sang suami.

Beberapa lama kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan sang ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-As. Abu al-Ash pun mengucapkan dua kalimah syahadah dan memeluk agama mertua dan isterinya. Keluarga kecil yang bahagia ini pun bersatu kembali dalam Islam dan iman. Tidak lama kebahagiaan tersebut berlangsung, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-As dan putri mereka Umamah.

Setelah itu, kadang-kadang Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. Sebagaimana dalam hadis disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, ketika solat, apabila beliau sujud, beliau meletakkan Umamah dari gendongannya.

Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah.

Ruqayyah radhiallahu 'anha dinikahkan oleh Rasulullah dengan sahabat yang mulia Utsman bin Affan radhiallahu' anhu. Kedua-duanya turut serta berhijrah ke Habsyah ketika musyrikin Mekah sudah sangat keterlaluan dalam menyiksa dan menyakiti orang-orang yang beriman. Di Habsyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang dinamakan Abdullah.

Ruqayyah dan Utsman juga turut serta dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Ketika tinggal di Madinah mereka dihadapkan dengan ujian wafatnya putra tunggal mereka yang sudah berusia 6 tahun.

Tidak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit demam yang tinggi. Utsman bin Affan setia merawat isterinya dan sentiasa mengawasi keadaannya. Pada masa itu bersamaan dengan terjadinya Perang Badar, atas permintaan Rasulullah untuk mejaga anak perempuannya, Utsman pun tidak boleh turut serta dalam perang ini. Wafatlah ruqayyah bersamaan dengan kedatangan Zaid bin Haritsah yang mengkhabarkan kemenangan umat Islam di Badar.

Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah.

Setelah Ruqayyah meninggal dunia, Rasulullah menikahkan Utsman dengan putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu 'anha. Oleh kerana itulah Utsman dijuluki dzu nurain (pemilik dua cahaya) kerana menikahi dua putri Rasulullah, sebuah keistimewaan yang tidak dimiliki sahabat lain.

Uthman dan Ummu Kultsum bersama-sama membina rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya'ban tahun 9 H. Kedua-duanya tidak dianugerahi putra ataupun putri. Ummu Kultsum dikebumikan bersebelahan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu 'anhuma.

Keempat, Fatimah binti Rasulullah.

Fatimah radhiallahu 'anha adalah putri bungsu Rasulullah shallallahu' alaihi wa sallam. Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijrah, Rasulullah menikahkannya dengan Ali bin Abi Thalib radhiallahu 'anhu. Pasangan ini dikurniakan putera pertama pada tahun ketiga hijriyah, dan anak tersebut dinamakan Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dinamakan Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berselang lahirlah putri mereka Ummu Kultsum.

Fatimah adalah anak yang paling mirip dengan Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dari gaya bicara dan gaya berjalannya. Apabila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ayahnya selalu menyambutnya dengan menciumnya dan duduk bersamanya. Kecintaan Rasulullah terhadap Fatimah tergambar dalam sabdanya,

فاطمة بضعة منى -جزء مني- فمن أغضبها أغضبني "رواه البخاري

"Fatimah adalah bahagian dariku. Barangsiapa membuatnya marah, maka dia juga telah membuatku marah. "(HR. Bukhari)

Beliau juga bersabda,

أفضل نساء أهل الجنة خديجة بنت خويلد, وفاطمة بنت محمد, ومريم بنت عمران, وآسية بنت مزاحم امرأة فرعون "رواه الإمام أحمد

"Sebaik-baik wanita penduduk syurga adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, isteri Firaun." (HR. Ahmad).

Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup ketika beliau wafat adalah Fatimah, kemudian ia pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu 'anha wafat enam bulan setelah sang ayah tercinta meninggal dunia meninggalkan dunia. Ia meninggal dunia pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi '.

Putera-putera Rasulullah

Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah berkunyah dengan namanya, beliau dipanggil Abu al-Qashim (bapanya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian dan meninggal dunia ketika usia dua tahun.

Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamakan juga dengan ath-Thayyib atau ath-Thahir. Ia dilahirkan pada masa kenabian.

Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah.

Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia adalah anak terakhir dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu' anha. Maria adalah seorang budak yang diberikan Muqauqis, penguasa Mesir, kepada Rasulullah. Lalu Maria mengucapkan syahadat dan dinikahi oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.

Usia Ibrahim tidak panjang, ia meninggal dunia pada tahun 10 H ketika berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih dengan pemergian anak kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Ketika Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda,

"إن العين تدمع, والقلب يحزن, ولا نقول إلا ما يرضى ربنا, وإنا بفراقك يا إبراهيم لمحزونون" رواه البخاري

"Sesungguhnya mata ini menitiskan air mata dan hati ini bersedih, namun kami tidak mengatakan sesuatu yang tidak diredhai Rab kami. Sesungguhnya kami bersedih dengan pemergianmu wahai Ibrahim. "(HR. Bukhari).

Kalau kita perhatikan perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, nescaya kita dapati pelajaran dan hikmah yang banyak. Allah Ta'ala mengurniakan beliau putra dan putri yang merupakan tanda kesempurnaan beliau sebagai manusia. Namun Allah juga cuba beliau dengan mengambil satu per satu anaknya sebagaimana dahulu mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau memerlukan mereka; ayah, ibu, datuk, dan bapa saudaranya. Hanya anaknya Fatimah yang meninggal dunia selepas Nabi Muhammad shallallahu 'alaihi wa sallam.

Allah juga tidak memanjangkan usia putra-putra beliau, salah satu hikmahnya adalah agar orang-orang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah beliau. Boleh kita lihat, cucu beliau Hasan dan Husein saja sudah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka mengagungkan kedua-dua cucu beliau melebih yang sepatutnya, bagaimana kiranya kalau putra-putra beliau dipanjangkan usianya dan mempunyai keturunan? Tentu akan menimbulkan fitnah yang lebih besar.

Hikmah dari wafatnya putra dan putri Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam juga sebagai teladan bagi orang-orang yang kehilangan salah satu putra atau putri mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabar dan tidak mengucapkan perkataan yang tidak diridhai Allah. Ketika seseorang kehilangan salah satu anaknya, maka Rasulullah telah kehilangan hampir semua anaknya.

Semoga shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad dan keluarganya ..

Sumber: Islamweb.net

Sabtu, 11 Februari 2017

PASUKAN HAMZAH BIN ABDUL MUTAHLIB, PASUKAN PERTAMA UMAT ISLAM  \

PASUKAN HAMZAH BIN ABDUL MUTAHLIB, PASUKAN PERTAMA UMAT ISLAM \


Hamzah bin Abdul Muthalib radhiallahu 'anhu adalah bapa saudara Nabi ﷺ. Ia juga menjadi saudara sesusuan Nabi kerana sama-sama disusui oleh Tsuwaibah, budak dari Abu Lahab bin Abdul Muthalib. Kemudian di masa Islam, Hamzah memimpin pasukan pertama kaum muslimin menuju wilayah Saef al-Bahr.

Izin Berperang

Merupakan kebiasaan orang-orang Quraisy bertandang ke Syam untuk melakukan perdagangan. Dalam perjalanan pulang-pergi ke Syam, kafilah Quraisy membawa serta tokoh-tokoh dan sebahagian pasukan untuk menjaga mereka. Siapa sangka, jalur dagang menuju Syam yang biasa mereka lalui sekarang telah menjadi negeri hijrahnya Muhammad ﷺ dan sahabat-sahabatnya. Tentu Nabi ﷺ dan para sahabat punya urusan tersendiri dengan mereka.

Nabi ﷺ memandang ini adalah sebuah kesempatan. Beliau merancang untuk memintas mereka. Menyita barang-barang dagangan berharga yang mereka bawa. Melemahkan dan menghina mereka. Sebagai balasan atas permusuhan dan peperangan yang mereka kobarkan sejak di Mekah. Mereka mengeluarkan umat Islam dari sana. Merampas harta dan rumah-rumah yang dimiliki kaum muslimin. Serta mencegah Nabi ﷺ menyebarkan Islam, risalah yang Allah ﷻ perintahkan. Nabi ﷺ pun memohon kepada Allah ﷻ agar diberikan izin untuk berperang (Muhammad Abu Syuhbah dalam as-Sirah an-Nabawiyah 'ala Dhaw'i al-Quran wa as-Sunnah, 2/67).

Allah ﷻ pun menurunkan firman-Nya,

أُذِنَ لِلَّذِينَ يُقَاتَلُونَ بِأَنَّهُمْ ظُلِمُوا ۚ وَإِنَّ اللَّهَ عَلَىٰ نَصْرِهِمْ لَقَدِيرٌ



"Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, kerana sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah, benar-benar Maha Kuasa menolong mereka itu. "(QS: Al-Hajj | Ayat: 39).


Diutusnya Pasukan

Atas izin Allah ﷻ pasukan iman berangkat menggetarkan barisan saf kaum musyrikin. Rasulullah tahu, kafilah Quraisy membawa harta dan barang dagangan yang banyak dalam perjalanan pulang dari Syam menuju Mekah. Kafilah ini dijaga oleh 300 orang pasukan berkuda Quraisy. Dan dipimpin oleh Abu Jahal bin Hisyam. Rasulullah ﷺ mengutus 30 orang mujahid yang dipimpin oleh Singa Allah, Hamzah bin Abdul Muthalib radhiallahu 'anhu. Tak ada seorang pun dari kalangan Anshar dalam pasukan tersebut. Semuanya dari Muhajirin.

Pada Bulan Ramadhan, tahun pertama hijrah, pasukan pertama itu berangkat. Atas perintah Nabi ﷺ mereka berjihad di jalan Allah. Kaum muslimin mengibarkan bendera putih yang dibawa oleh Abu Murstid Kinaz bin al-Husain al-Ghanawy radhiallahu 'anhu.

Pasukan ini bergerak cepat menuju tepi Laut Merah. Kemudian, dua pasukan bertemu di daerah Kabilah Juhainah. Apabila mereka tengah berhadap-hadapan dan bersiap untuk perang, salah seorang tokoh kabilah Juhainah mendamaikan kedua-dua pasukan tersebut.

Hasil pencegatan

Meskipun tidak terjadi kontak senjata, tetapi tindakan ketenteraan yang dilakukan kaum muslimin berjaya menghantar isyarat kepada orang-orang musyrik Mekah. Dan ini sangat penting bagi negara baru Madinah. Orang-orang Quraisy mula merasakan cemas. Mata mereka menyaksikan sendiri bahaya yang menghadang di jalur dagang mereka. Dan tentu sangat membahayakan perekonomian mereka.

Sementara bagi umat Islam, mereka mendapatkan hasil yang positif. Moral mereka meningkat. Muncul rasa percaya diri setelah berjaya menimbulkan luka psikologi terhadap musuh. Inilah kali pertama mereka berhadap-hadapan dengan orang-orang musyrik Mekah yang dulu menindas mereka.

Ketika tiba di Mekah, Abu Jahal berkata, "Wahai orang-orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah sampai di Yatsrib (Madinah) dan telah menghantar isyarat. Ia ingin agar kamu ditimpa suatu hal. Hati-hatilah kalian melintasi jalannya (wilayahnya). Jangan kalian dekati, kerana dia bagaikan singa yang berbahaya. Dia sangat mara pada kalian. Menjauhlah sebagaimana unta takut digigit dhab. Demi Allah, sungguh dia punya sihir. Aku tidak melihatnya dan para sahabatnya kecuali disertai syaitan-syaitan. Kalian tahu sendiri bagaimana permusuhan Ibni Qilah (kiasan untuk Aus dan Khazraj). Ia adalah musuh yang meminta tolong pada musuh. "

Apabila dialog mereka ini sampai ke telinga Rasulullah ﷺ, beliau membantah ucapan keji Abu Jahal itu. beliau ﷺ berkata, "Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, aku akan memerangi mereka, akan menguasai mereka, dan mendakwah mereka. Sesungguhnya aku ini adalah rahmat dari Allah ﷻ. Aku tidak akan wafat sampai Allah menangkat agama ini. Aku mempunyai lima nama. Aku adalah Muhammad, Ahmad. Aku adalah al-Mahi (penghapus) yang dengan perantara diriku Allah hapus kekufuran. Aku adalah al-Hasyir (pengumpul). Nanti manusia dikumpulkan di hadapanku. Dan aku adalah al-'Aqib. "(HR. Muslim).

sumber https://kisahmuslim.com

Rabu, 01 Februari 2017

Jika Ada yang Berwudhu, Dialah Orang yang Kentut


SUNGGUH Rasulullah adalah suri teladan yang baik. Kita sebagai umatnya harus mampu menirunya. Dalam kisah-kisah tentangnya, kita boleh mengetahui Rasulullah mencontohkan bagaimana menyelesaikan sebuah urusan mulai dari hal rumit sehingga hal remeh.

Ada kisah menarik yang berlaku semasa Rasul sedang berkumpul dengan sahabat di masjid. Pada masa itu, terciumlah bau tidak sedap. Bau kentut. Semua sahabat mulai tidak selesa dengan bau itu. Lalu seseorang di antara mereka berdiri dan menyuruh dia yang kentut agar berdiri.

"Barang siapa yang kentut, berdirilah," ujar salah seorang sahabat.

Semua hening. Tidak ada seorang pun yang berdiri. Mungkin orang yang kentut tersebut merasa malu.

Hingga tiba waktu Isya, tak ada seorang pun yang berdiri dan mengaku dirinya yang kentut.

"Jika ada orang yang berdiri lalu berwudhu, pastilah ia orangnya. Orang itulah yang kentut, "ujar salah seorang sahabat.

Semuanya diam. Tak ada yang beranjak dari tempat duduknya untuk berwudhu. Lalu Bilal berdiri untuk mengumandangkan azan.

Melihat keadaan itu, Rasulullah ﷺ mengerti orang yang kentut tadi merasa malu jika berwudhu seorang diri.

"Tunggu dulu, saya belum batal, tapi saya hendak berwudhu lagi."

Semua sahabat mengikuti Rasul untuk berwudhu. Dengan begitu, tidak diketahui siapa orang yang menyebabkan kekecohan akibat bau tak sedap itu. Itulah cara Rasulullah menutup aib seseorang. Begitu tinggi dan mulianya akhlak Rasulullah ﷺ. []

Sumber: Muslimahzone

Selasa, 31 Januari 2017

7 Langkah Khusyuk Di Dalam Solat

7 Langkah Khusyuk Di Dalam Solat

Tanyakan pada diri kita, bagaimana fikiran, perasaan dan rasa hati semasa mengerjakan solat?
Adakah fokus kita tertumpu sepenuhnya kepada Allah? Atau hati masih liar, fikiran masih merawang dan perasaan masih kacau semasa mendirikan solat?
Bagaimana pula soal penghayatannya?
Adakah kita dapat merasai apa yang telah kita fahami itu? Semasa mengucapkan bacaan-bacaan dalam solat itu adakah kita lakukan dengan sedar?
Atau hanya sekadar ucapan biasa yang tidak membawa apa-apa makna dan rasa?
“Dan berjayalah orang yang beriman, yakni orang yang khusyuk dalam solatnya.” [Surah al-Mu’minun 23: 1-2]
.
panduansolat
Tonton Video Preview oleh Profesor Ustaz Hasnan Kasan untuk dapatkan khusyuk dalam Solat

Apakah itu khusyuk?

khusyukSolat yang khusyuk tercapai apabila hati, fikiran, perasaan dan seluruh pancaindera tunduk patuh kepada Allah sepanjang waktu mengerjakan solat.
Semasa solat, seseorang itu berhubung secara langsung dengan Allah. Sepanjang mendirikan solat, seseorang hamba berdoa terus dihadapan-Nya.
Hubungan dengan Allah ini akan menimbulkan rasa-rasa tertentu di dalam hati yang kemudian membentuk hati itu akur, taat dan patuh kepada Allah.
Diriwayatkan apabila para sahabat Rasulullah SAW solat ditengah padang pasir, burung-burung akan hinggap dibahu, malah ada diatas kepala dan badan mereka, kerana menyangka mereka ialah pohon kayu. Begitulah, diam dan pegunnya jasad mereka ketika solat.
Bagaimana pula dengan kita insan biasa untuk khusyuk di dalam solat?
Saya pasti ramai diantara kita sangat teringin dan tercari-cari formula untuk menjadi salah seorang hamba Allah yang khusyuk di dalam solat.
InsyaaAllah, dalam artikel ini akan berkongsi formula yang dengan izinNya, akan membantu kita untuk khusyuk di dalam solat.
.

Tujuh Langkah Menuju Khusyuk Dalam Solat

1. Mencari Pengertian (Faham)
Perkara ini perlu dimulakan dengan memahami makna bacaan (rukun qauli) dan erti setiap perbuatan dalam solat.
Apabila mengucapkan takbiratulihram dan membaca surah al-Fatihah misalnya, makna setiap kalimahnya perlu diketahui satu per satu.
Jadi, belajarlah bahasa Arab sekurang-kurangnya untuk mengetahui makna bacaan-bacaan yang wajib dan sunat dalam solat.
“Jangan jadi seperti burung kakak tua yang hanya pandai menuturkan kata-kata tetapi tidak tahu apa makna dan maksudnya.”
Namun memahami makna sahaja tidak memadai, kita perlu melangkah ke tahap seterusnya.
2. Memusatkan Fikiran (Fokus)
Tahap kedua ialah pemusatan fikiran. Menghindarkan gangguan hal-hal lain, sehingga fikiran, perbuatan dan ucapannya seiring – yakni terfokus sepenuhnya kepada makna bacaan dan perbuatan dalam solat.
Mungkin kita telah memahami makna bacaan, tetapi oleh sebab tidak fokus, seseorang yang membacanya hanya umpama “orang mengigau” dalam tidur.
Sekiranya seketika kita terfikir juga hal-hal lain, tapi ingatan dan fikiran tetap terikat pada tujuan solat (mengingati Allah), keadaan ini samalah seperti orang yang sedang memandu kereta.
Fikirannya tetap fokus kepada destinasi yang hendak dituju walaupun sekali – sekala ternampak juga objek-objek dan pemandangan di tepi-tepi jalan.
Semua itu tidak menggangu fokusnya.
Lain pula halnya jika dia “terlalai” dengan pemandangan-pemandangan di tepi jalan sehingga dia tidak sedar bahawa sudah terlajak jauh daripada destinasinya.
3. Membesarkan Allah (Rasa ‘Haibah’)
Perlu diingat, pemusatan fikiran bukan ditujukan kepada bacaan itu sahaja tetapi pada makna di sebalik bacaan itu.
Ertinya, tumpuan bukan hanya pada huruf dan ayat serta sebutan, tetapi pada makna dan tafsirannya. Inilah yang dimaksudkan dengan ‘pengertian’.
khusyuk 2Hanya orang yang kenal raja akan bercakap-cakap dengan penuh penghormatan, rasa takut, malu dan rendah diri.
Sebaliknya, orang yang tidak kenal raja, akan bercakap-cakap dengan baginda secara biasa-biasa sahaja.
Apabila orang yang kenal Allah mengucapkan kalimah “Allahuakbar” misalnya, dia bukan sahaja tahu maknanya (Allah Maha Besar) malah hatinya turut merasai betapa hebatnya kuasa Allah yang telah mencipta dirinya, alam semesta, akhirat dan segala makhluk.
Pada ketika itulah terpancarnya rasa-rasa yang seni dan indah dalam fikiran dan jiwa yang tidak mungkin terjadi diluar solat.
Oleh itu pada peringkat permulaan, cubalah untuk merasakan kita sedang berhadapan seorang raja yang sangat berkuasa dan kita perlu fokus dihadapanNya.

4. Kagum dan Takut akan Keagungan Allah (Rasa Khauf)
Hasil daripada merasai kebesaran Allah, maka timbul pula rasa takut dan kagum kepada-Nya. Rasa takut dan kagum kepada Allah ini tidak sama dengan rasa takut dan kagum kepada perkara-perkara lain.
Kita takut kepada harimau kerana keganasannya, tetapi kita takut kepada Allah kerana kehebatan-Nya. Takut akan harimau, kita lari menjauhinya, tetapi takut akan Allah kita datang menghampirinya.
Rasa takut akan timbul apabila seseorang gerun akan kemurkaan Allah dan Neraka-Nya.
Rasa takut ini diterjemahkan dalam solat dengan perbuatan berdiri betul, menundukkan kepala, mata melihat ke tempat sujud (tidak berani mendongak), rukuk serta sujud.
.
5. Rasa Mengharap Kepada Allah (Rasa Raja’)
Apa yang dimaksudkan dengan rasa mengharap?
khusyukRasa mengharap ialah pengharapan seorang hamba untuk mendapat keampunan, kasih sayang dan syurga Allah.
Jika rasa takut sahaja dibiarkan mendominasi jiwa, dikhuatiri akan timbul sangka buruk dan jahat sangka terhadap Allah.
Padahal dalam reality, Allah lebih suka mengampunkan dosa berbanding menyeksa hamba-Nya yang berdosa.
Oleh sebab itu, ulama berpesan dalam keadaan biasa seseorang hendaklah menyeimbangkan rasa  takut dan harapnya umpama dua sayap pada burung yang membolehkannya terbang dengan stabil dan selamat.
Jangan terlalu takut, nanti timbul sangka buruk kepada Allah. Jangan terlalu harap, nanti terjadi sikap sambil lewa serta “berangan-angan” akan keampunan Allah.
Rasa harap dalam solat ini adalah menerusi penghayatan ketika bacaan al-Fatihah (mengharapkan jalan yang lurus), bacaan qunut (mengharapkan hidayah, kesihatan dan lain-lain) dan bacaan ketika duduk diantara dua sujud (mengharap keampunan, belas kasihan, ditinggikan darjat, dan lain-lain)
Manakala melalui perbuatan duduk dalam tahiyat awal dan akhir, sujud serta rukuk – semuanya melambangkan rasa pengharapan seorang hamba yang sedang meminta-minta dan merayu-rayu..
6. Rasa Malu dan Hina Diri (Rasa Haya’) dalam solat
Rasa malu dan hina diri ialah kemuncak segala rasa yang timbul sebelumnya. Oleh itu PERLU ditimbulkan rasa berdosa kepada Allah.
Apabila ada rasa berdosa maka barulah timbul rasa malu.
Cara untuk menimbulkan rasa berdosa ialah dengan menimbulkan kesedaran (insaf) akan kelalaian diri, lemah melaksanakan tanggungjawab, kurang ikhlas, banyak prasangka buruk, tidak sabar dan reda dengan takdir dan banyak “berhutang” kepada Allah.
Sewaktu sujud, kita meletakkan kepala, dahi dan muka yang sentiasa berada “di atas” (sentiasa dihormati) ke tempat yang paling bawah (tempat sujud).
Manakala dubur yang sentiasa disorokkan dibawah, ketika sujud telah dijongketkan ke atas sebagai cara meleburkan kesombongan dan kebesaran diri!

7. Memakai Pakaian Yang Paling Selesa Dan Paling Cantik Ketika Solat
khusyukUntuk kaedah yang terakhir ini, tidak berkaitan dengan enam kaedah diatas. Nampak seperti remeh, namun ia juga adalah salah satu langkah yang boleh dipraktikkan untuk mencapai khusyuk di dalam solat.
Sebolehnya pilihlah pakaian yang paling selesa, suci dan khas untuk solat.
Pilih pakaian  yang diperbuat daripada material yang paling baik, yang tidak membuatkan kita berpeluh apabila panas, tidak longgar atau ketat sehingga mengganggu pergerakan solat.
Dan juga pilihlah yang paling cantik, sempurna dan dikhaskan untuk solat. Kerana solat kita adalah untuk menghadap Allah, Raja yang paling Agung dan Allah sangat sukakan kecantikkan.
Innallah jamil, wa yuhibbu jamal: Allah itu cantik dan sukakan kecantikan.
Buat para Muslimah, boleh mencuba koleksi telekung Siti Khadijah yang sangat selesa digunakan untuk mengerjakan solat.  Ianya berbaloi untuk dicuba
.

Penutup: Solat yang Khusyuk Akan Mendidik Hati Membina Rasa Bertuhan

Sebagai ingatan, ada bezanya antara solat yang khusyuk dan solat yang sah. Solat yang khusyuk sudah semestinya sah. Tetapi solat yang sah belum tentu khusyuk.
Solat yang khusyuk ialah solat yang berjaya menyentuh dan mendidik hati, akal dan nafsu manusia. Ia juga akan membina rasa bertuhan.
Rasa bertuhan akan mendatangkan rasa gagah, berani dan optimis dalam hidup.
bahagia
Walau sekuat mana pun ujian hidup melanda, segala-galanya dapat diatasi dengan baik kerana adanya “talian hayat” denga Yang Maha Berkuasa.
Diri yang lemah akan menjadi gagah apabila hati diserahkan sepenuhnya untuk ditadbir oleh Allah. Rasa bertuhan juga menimbulkan harapan dan impian yang sentiasa hidup dan menyala-nyala.
Inilah booster utama dalam usaha meraih kejayaan dalam kehidupan =)
sumber http://akuislam.com/